Press "Enter" to skip to content

Selfie Mengalihkan Perhatianku dari Alam

Ponsel berkamera, instagram telah merevolusi cara manusia menikmati alam.

Beberapa minggu aku dan beberapa teman pergi piknik. Tujuan kami kala itu Kebun Buah Mangunan. Saat kami datang, masih sempat melihat kabut yang menyelimuti pegunungan. Pemandangan di depan kami hamparan kabut putih bagai cotton candy. Saat mentari meninggi kabut menguap, dan tersingkaplah kelokan Sungai Opak, tebing-tebing yang mengelilinginya. Sangat menakjubkan. Begitu melihat pemandangan seperti itu yang sekejap kulakukan adalah mengabadikan pemandangan itu, minta tolong fotoin ke teman, ya karena aku nggak punya tongsis dan jarang selfie. Kulihat sebagian besar orang begitu. Sibuk dengan ponsel, tongsis, cari posisi terbaik untuk berfoto.

Sungai Opak dari puncak kebun buah Mangunan
Sungai Opak dari puncak kebun buah Mangunan

Sebagai orang yang lebih sering di kota yang kian hari makin sempit dengan gedung menjulang, tentu ini kesempatan yang bagus. Aku tak bisa setiap saat main ke sana. Apalagi medan yang ditempuh menuju Kebun Buah Mangunan tidaklah mudah. Mesti lihai memainkan gas dan gigi motor di jalanan berbatu yang menanjak dan menurun. Jika aku naik motor sendirian ke tempat ini, gak yakin bisa deh. Untung waktu itu aku dibonceng.

Setelah puas di Kebun Buah Mangunan, aku dan temanku pergi menuju hutan pinus Mangunan. Ramai. Berjalan di antara pohon-pohon pinus jadi seperti berjalan di dalam labirin, pasalnya banyak yang memasang hammock di antara batang pohon, keriuhan orang-orang yang asyik berfoto. Kami berusaha mencari “kursi kayu” yang masih kosong. Kursi kayu yang kumaksud adalah bilah kayu panjang yang paku di batang pohon. Lalu bereksplorasi dengan kamera.

Kurasa begitu cara orang menikmati alam kini. Terlalu sibuk dengan foto.

Saat di Puncak Becici pun begitu. Aku lupa sesuatu, lupa untuk duduk diam, memandangi kejauhan, melamun, merasakan angin yang menerpa lembut kulitku.

Padahal, seingatku, posisiku sudah sangat pas. Duduk di sebuah bangku dari belahan gelondongan kayu di bawah rimbun pohon, memandang hijaunya daratan dan birunya langit.

Aku menyadari ternyata ponsel berkameraku telah mengubah kebiasaan. Aku tak terlalu menyadari deru angin, suara burung, aku lupa mengobrol bersama teman tentang keindahan yang tengah kurasakan. Kami terlalu sibuk mencari posisi bagus untuk berfoto. Aku bahkan lupa untuk mengobrol dengan diriku sendiri. Biasanya saat aku jalan sendiri ke suatu tempat, pikiranku riuh akan percakapan, aku bisa berpikir, melamunkan tentang orang. Juga punya kesempatan lebih memperhatikan sekitar.

Talk of mysteries! — Think of our life in nature, — daily to be shown matter, to come in contact with it, — rocks, trees, wind on our cheeks! The solid earth! The actual world! The common sense! Contact! Contact! Who are we? Where are we? (Henry D. Thoreau)

Aku tak mengatakan memotret diri dan alam adalah hal yang salah. Namun, aku sendiri menyadari bagaimana keinginan berfoto itu mengalihkan perhatianku pada apa yang di hadapanku. Aku tahu sedang memandangi alam Bantul dari Puncak Becici, tapi tak benar-benar menyelami kedirianku pada saat itu. All that I care was just to take a picture.

Konon, pergi ke alam bebas adalah cara untuk berdialog dengan alam juga diri sendiri. Sebuah upaya menemukan kejernihan pikiran. Kemarin, aku melupakannya sehingga tak menemukan kejernihan pikiran. Aku cuma berusaha menampilkan foto yang kiranya akan dapat banyak tanda ♥  di instagram dan like di Facebook.

Seharusnya aku merasakan kasarnya kulit batang pinus, memerhatikan tetesan getah pinus yang manusia sadap. Batang pohon pinus yang tanggal karena lapuk. Merasakan sinar mentari yang menyelusup di antara rindang pinus.

Saya kehilangan kesempatan itu. []

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *