Press "Enter" to skip to content

Perempuan Lolipop: Berbagi Cerita tentang Hidup dan Kematian

perempuan lolipop
Perempuan Lolipop | Bamby Cahyadi | Gramedia Pustaka Utama | Februari 2014

[S]etidaknya ada dua alasan kenapa aku tertarik membeli kumpulan cerpen ini. Pertama, kulit buku yang yummy dan mengundang penasaran, close up bibir dan hidung perempuan beserta lollipop. Kedua, adalah blurb-nya.

“Tidak ada acara terbaik menikmati perjalanan selain membiarkan dirimu tersesat. Ketika berhadapan dengan jalan yang tampak tak berujung dan jembatan serupa yang membingungkan, teruslah berjalan. Setiap kelokan, setiap sudut, menghadirkan misteri tersendiri. Tersesat adalah anugerah, karena dirimu tak tahu apa yang menanti di balik tiap kelokan. Bukankah begitu dengan kehidupan, bahkan kematian sekalipun?”

Masih di bagian belakang sampul buku ini, tertulis juga

“Kematian bisa dimaknai sebagai hal yang wajar, tapi sekaligus misterius; pilu sekaligus paripurna yang indah.”

Membaca blurb tersebut, memberi kesan bahwa kumcer ini mempunyai rasa sendu. Tapi pemilihan judul dan cover, seolah kebalikannya. Permen lollipop yang melingkar-lingkar dan berwarna cerah tersebut sering diasosiasikan dengan sesuatu yang ceria, semarak, cenderung kekanakan. Mungkin paradoks-paradoks inilah yang ingin disampaikan penulis. Wajar sekaligus misterius.

Kumpulan cerpen setebal 200 halaman ini sangat padat dalam segi kuantitas cerita serta tema yang ditawarkan. Total ada 19 cerita pendek yang terangkum dalam buku berjudul Perempuan Lolipop ini.

Semenjak kita mengetahui bahwa orang pada akhirnya mati, kerap berandai-andai bagaimana jika seseorang itu mati? Apakah selesai begitu saja? Apa yang akan kita rasakan kala mati? Jenis-jenis pertanyaan yang kita tanyakan kala kecil, pertanyaan yang sebagian besar disudahi dengan penjelasan ala agama. Jiwa kita berada di alam kubur, tubuh membusuk di tanah, menunggu untuk dibangkitkan, dsb. Sebagai manusia fana, kita diikuti kematian. Kematian itu sesuatu yang akrab sekaligus asing. Wah, oxymoron kan? Maksudku, setiap dari kita tahu bahwa siapa pun, apa pun akan mati. Kematian terjadi setiap detik di sekitar kita. Paling tidak, dengarkan saja pengumuman dari masjid atau mushala sekitar pada pagi hari, siapa yang berpulang ke rumah Allah hari itu. Namun, hal yang akrab itu terasa asing bila menimpa saudara, kenalan kita. Seolah-olah kematian datang tanpa isyarat, mengentakkan kita. Dan, lagi pula, tidak ada yang bisa kita minta tanya tentang apa itu kematian. Kita mengetahui penjelasan tersebut dari sudut pandang agama.

Nah, membaca cerpen-cerpen karya Bamby Cahyadi ini kita diajak kembali berandai-andai. Mungkin kesibukan kita menghalangi untuk menyempatkan waktu merenungi hidup. Dalam cerpen “Malaikat Mungil dan Perempuan Lollipop” dikisahkan bahwa sang malaikat mau tidak berpenampilan misterius dengan jubahnya, seperti yang kerap kita bayangkan.

Malaikat maut itu datang dalam wujud perempuan yang sering mengulum lollipop. Perawakan dan sikapnya pun ceria. Mungkin keceriaan yang dimaksudkan sebagai metafora tentang hidup yang singkat namun manis. Seperti permen lollipop. Membacanya, kita diajak berandai-andai seperti apa kematian itu. Alih-alih membayangkan kematian sebagai sesuatu yang suram, di sini kematian adalah sesuatu yang mengasyikkan.

Jika Anda percaya ramalan, atas dasar apa Anda mempercayai ramalan? Percaya atas kemungkinannya atau percaya atas kemustahilannya? Dalam cerpen pertama kumcer ini, Suhardono, si tokoh, mempercayai ramalan lantaran mustahil. Credo quia absurdum. Aku percaya karena mustahil. Tapi hidup kerap menantang keyakinan seseorang. Itulah yang dirasakan Suhardono. Hal yang ia yakini karena mustahil tersebut menjadi kenyataan.

Dari segi penyajian, deskripsi dan narasi keseharian Suhardono memakan banyak tempat pada cerpen “Credo Quia Absurdum” ini. Bagian antara Suhardono dan si peramal hanya mendapat sedikit tempat, lalu berlanjut pada bagian akhir cerpen. Aku merasa agak kecewa dengan cerpen ini, karena terasa tiba-tiba selesai.

Dalam banyak cerpennya, Bamby bermain dengan tema yang berkenaan jiwa, roh. Pertukaran jiwa dikisahkan dalam dua cerpennya, yaitu “Tubuhku Tersesat Di Jalan Pintas” dan “Dua Rangkai Kisah Kematian”. Seorang lelaki mengalami hal absurd. Seorang lelaki hendak pulang menuju rumah. Tapi anak dan istrinya malah ketakutan. Mereka tidak mengenali si lelaki. Saat wajahnya memantul dari kaca spion mobil, si lelaki terkejut menyadari bahwa wajah di cermin bukanlah dirinya, tapi wajah orang yang tadi merampoknya. Mungkin keinginan bawah sadar untuk segera sampai di rumah merayakan ulang tahun si anak, upaya mempertahankan kado untuk si anak dan dorongan bawah sadar untuk segera sampai ke rumah merayakan ulang tahun sang anak jadi pemicu mengapa pertukaran jiwa itu terjadi.

Dalam cerpen “Dua Rangkai Kisah Kematian”, bercerita tentang dua orang yang tak saling kenal tapi dan memiliki keinginan yang saling bertolak belakang. Yang satu ingin bunuh diri, sedang yang lainnya ingin terus hidup. Jiwa mereka pun tertukar. Membaca cerpen ini mengingatku bahwa terkadang apa yang kita miliki—sesimpel apa pun bagi kita—ada orang lain yang amat menginginkannya. Kadang, terlalu menginginkan benda milik orang lain sehingga mengabaikan benda milik sendiri. Termasuk hidup juga.

Kematian melahirkan kegilaan karena meninggalkan kehampaan bagi yang ditinggalkan. Dalam cerpen “Aku, Polisi, dan Pistol”, si Aku kehilangan ayahnya yang meninggal dunia. Suatu ketika, pistol yang selalu menemani sang ayah kala hidup, tiba-tiba hidup. Darinya, si Aku tahu lebih banyak tentang mendiang sang ayah.

Cerita yang disajikan dalam kumpulan cerita ini beragam. Tetapi khas kehidupan kota urban. Salah satu cerpen yang aku rasa unik adalah “Pelayan Kafe dan Hikayat Penangkap Roh”. Dua halaman buku bolak-balik pembaca diberi suguhan deskripsi tentang tiga orang yang tengah mengobrol di sebuah kafe cuma untuk kemudian diberi tahu bahwa fokus cerita tersebut adalah pada pengalaman si bartender kafe yang tadi melayani tiga tamu tersebut. Bagiku, ini menarik. Meski di awal adalah deskripsi hal yang tidak berhubungan dengan cerita selanjutnya, namun cerpen ini punya komposisi yang pas. Jam terbang dan kebiasaan menulis cerpen yang membuat penulis bisa mengukur tentang komposisi cerita. Atau mungkin saja, si penulis ingin menulis tentang kejadian yang dialami Suteja, si bartender, tapi kemudian menambahkan soal ketiga tamu kafe tersebut.

Cerita sederhana namun getir disajikan dalam cerpen berjudul “Teh Manis Hangat”. Berkisah tentang Mahadi, seorang honorer di lingkungan pemda. Aku menyukai kalimat pembuka pada cerpen ini.

“Kerap tanpa disadari olehnya, Mahadi selalu merasa miskin.”

Sebagai pegawai honorer, ia mengerjakan berbagai pekerjaan, seperti menyapu halaman kantor, mengganti genteng yang pecah, lampu yang mati. Serta membuatkan kopi untuk Pak Bupati. Suatu ketika, istri Pak Bupati memintanya mulai membuat teh manis hangat untuk Pak Bupati. Perubahan yang terjadi di lingkungan pemda terjadi atas bantuan si Mahadi, meski dia tak menyadari.

Tema-tema yang diangkat oleh Bamby berada dalam realisme magis. Membawa pembaca untuk mempercayai bahwa hal yang tidak masuk akal itu adalah realitas. Hal tersebut digambarkan pada cerpen pertamanya: Aku percaya karena mustahil. Begitu pun dalam cerpen “Dunia Murakami”, di mana si tokoh bertemu dengan Aomame, tokoh dalam novel IQ84 karya Haruki Murakami.

Cerita yang terkesan biasa ternyata menyimpan kejutan yang membuat pembaca terhenyak, berpikir, dan merenung dalam-dalam. Seperti kehidupan, di balik keduniannya, ada kejutan-kejutan yang menanti kita. []

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *