Press "Enter" to skip to content

Category: Bookshelf

Kenangan dan Hidup yang Berlanjut

Judul: Cinta Tak Kenal Batas Waktu | Pengarang: Wulan Murti | Penerbit: Senja | 2016

cinta tak kenal batas waktu

Meski setahun telah berlalu, Candra masih saja menyempatkan diri pergi ke Bandung membawa sekeranjang bunga. Menemui seseorang yang masih tinggal di hatinya. Perjalanan yang kerap kali dilakukan Candra untuk mengunjungi kekasihnya.

Nektar Manggar, Jalan Berliku Cinta dan Impian

Judul: Sejak Awal Kami Tahu, Ini Takkan Pernah Mudah | Pengarang: Sisimaya | Penerbit DIVA Press | 2016

cover sejak awal kami tahu

Hiduplah sebagaimana kelapa, tiap bagian dirinya punya manfaat. (Tak heran bila tunas kelapa jadi lambang Pramuka)

Pekerjaan, penghasilan, serta percintaan yang dijalani Agus di Jakarta sangat memuaskan. Karier sebagai auditor sedang menanjak, dipercaya oleh atasan. Kekasih yang baik dan cantik. Singkatnya, Agus merasa telah memiliki segala hal yang diimpikan pemuda desa mana pun tentang kehidupan kota metropolitan. Hingga kemudian sang kakak angkat datang dan meminta bantuannya. Agus mengingat kembali tentang asalnya.

Cahaya Bintang Tareem, Menguji Cinta dan Pernikahan

Judul: Cahaya Bintang Tareem | Pengarang: TaaNee Jee |Penerbit: DIVA Press | 2015

cover cahaya bintang tareem
Awal-awal setelah menikah biasanya adalah masa paling romantis. Sukacita telah resmi menjadi suami-istri, kegembiraan menapaki kehidupan rumah tangga bersama.

Namun tidak demikian dengan Dee dan Algha. Hari-hari pertama pernikahan mereka diwarnai oleh percekcokan, pertengkaran.

Pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan, bermula dari insiden di pernikahan Riska. Dee yang hilang keseimbangan tak sengaja menabrak—tak cuma itu, ia mencium—Algha. Seorang lelaki dan perempuan yang tak saling kenal berciuman! Para tetua di acara itu langsung mengambil tindakan: menikahkan mereka.

Meski tinggal satu atap, mereka menetap zona pribadi yang tak boleh dilanggar oleh pihak lain. Sedaftar peraturan harus mereka tulis dan patuhi.

Perjanjian Dee dan Algha
Dari Dee:
1. Dilarang satu kamar
2. Dilarang menyentuh Dee dengan alasan apa pun
3. Pindah rumah harus besok
4. Harus saling menguntungkan satu sama lain
5. Tidak boleh mencampuri urusan Dee
6. Kalau semisal kita bertengkar, selesaikan dengan kepala dingin. Dilarang keluar rumah saat keadaan memanas seperti itu.
7. Semua peraturan harus diikuti

Dari Algha:
1. Dee harus siap masak makanan untuk Algha
2. Meskipun hanya berupa simulasi hubungan suami-istri tetap harus melaksanakan ibadah bersama-sama.
3. Harus menjaga perasaan orang tua masing-masing. Kalau ada Ayah dan Ibu harus sopan. Harus berpura-pura jadi pasangan di depan beliau.
4. Simulasi pernikahan ini berakhir sesuai kondisi
5. Semua peraturan wajib ditepati

Tiap pelanggaran dicatat. Dee memprotes pelanggaran yang dilakukan Algha, pun sebaliknya. Itu salah satu yang memicu pertengkaran mereka.

Dee dan Algha harus bersandiwara di depan keluarga besar mereka. Masalah semakin dalam kala ibu Dee maupun ibu Algha menanyakan hal yang menjadi dambaan kedua wanita paruh baya itu, cucu.

Setiap hari hanya tinggal di rumah membuat Dee bosan. Apalagi, Algha jarang di rumah. Selain sibuk dengan pekerjaan, ia juga harus menyelesaikan kuliah S-2. Secara kebetulan, perpustakaan di kampus Algha membutuhkan tambahan karyawan. Algha meminta Dee untuk bekerja di sana.

Di kampus, Algha akrab dengan salah satu dosen yang mengajarnya. Seorang dosen tamu, lebih tepatnya. Itu mungkin karena umur mereka tak jauh berbeda. Si dosen tamu tak punya banyak teman di sana karena telah lama meninggalkan Indonesia dan baru kembali saat ini. Ia banyak bercerita pada Algha tentang teman lamanya, seorang wanita yang sebenarnya telah lama ditaksirnya.

Siapa sangka, Dee bertemu dengan Frans. Mereka berteman sejak SMA, namun berpisah karena Frans melanjutkan sekolah ke luar negeri. Frans menjadi dosen tamu yang mengajar Algha. Dee terpaksa menyembunyikan status pernikahan dari Frans.

Dee terus mendesak Algha untuk mencari jalan keluar agar mereka segera berpisah. Bila Algha tak mau bertindak, Dee yang akan melakukannya. Sebuah lamaran dari Frans bisa menjadi jalan keluar bagi kemelut yang menyelimuti Dee.
Namun, desakan Dee justru membuat Algha ingin membuktikan bahwa kata cerai itu tidak akan menyelesaikan masalah.

Meski pernikahan mereka berawal dari sebuah insiden, namun pernikahan mereka sah di mata agama dan Tuhan. Sesuatu yang dipersatukan Tuhan, tak bisa dipisahkan oleh manusia. Jadi, Algha dan Dee butuh waktu untuk mencerna dan menjawab apakah cinta akan menemukan jalan dalam pernikahan mereka ataukah tidak

Memang merencanakan pernikahan itu mudah, tapi merencanakan siapa cinta kita itu yang sulit.

Jika ada yang bertanya-tanya apa itu Tareem, itu adalah nama kota tempat Dee dan Algha pernah kuliah. Mereka tak menyadari satu almamater.

Membaca novel ini, kemungkinan besar akan teringat dengan drama-drama “pernikahan terpaksa” ala drama Korea Fullhouse dan sejenisnya. Interaksi Dee dan Algha yang awalnya kaku lama-lama cair. Nuansa lain yang ditawarkan adalah pada kepribadian Algha. Meski keras hati, tapi ia punya sikap yang bertanggung jawab.

Sebagai selingan ringan, novel ini menarik dibaca. [ ]