Press "Enter" to skip to content

[Resensi] Di Balik Alat Vital yang Tak Terlalu Vital

Gara-gara Alat Vital dan Kancing Gigi | Penulis Gustaaf Kusno | Penerbit Gramedia | Tahun terbit Januari 2014

gara-gara alat vital dan kancing gigi

Sebagai penutur asli bahasa Indonesia, kita kerap menganggap enteng bahasa yang satu ini. Tapi cobalah saat menerjemahkan atau berusaha menjelaskan satu kata khas Indonesia kepada teman yang berasal dari luar negeri. Kadang kamu akan kesulitan menemukan padanan kata. Mungkin saat teman asingmu menanyakan mengapa bisa begitu, kamu tidak menemukan jawaban yang tepat. Itu karena kita menerima kata dan bahasa tersebut apa adanya. Terkadang kita tak berpikir bagaimana kata itu berasal.

Banyak kosakata yang sehari-hari kita gunakan tapi tidak tahu dari mana asalnya. Banyak kata yang punya sejarah panjang. Bisa jadi benda yang menjadi rujukan kata atau frase tertentu sudah punah. Tersisa dari masa lalu. Salah satunya adalah odol. Orang-orang menyebut pasta gigi dengan sebutan odol. Odol sejatinya adalah merek pasta gigi yang terkenal di tempo dulu, saat Belanda masih menjajah Indonesia.

Dalam buku lain disebutkan bahwa 9 dari 10 kata dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa asing. Bahasa Jawa, Melayu, Sunda, Portugis, Belanda, Arab, Sanskerta, dan Inggris memperkaya bahasa yang kita pakai sehari-hari ini, bahasa Indonesia.

Mungkin dewasa ini bahasa Inggris merupakan bahasa yang paling sering diserap dalam bahasa Indonesia. Saat melihat sebuah kata, kita tahu diserap dari bahasa Inggris. Bahasa lain yang sebagian besar kita akrabi. Ya, karena setidaknya kita telah mengenal bahasa Inggris sejak di bangku SMP, bahkan kini semakin dini. Balita-balita lebih sering dicekoki bahasa Inggris selain bahasa Indonesia. Kerap melupakan bahasa daerah, seperti bahasa Jawa dan bahasa Sunda.

Kita bukanlah generasi oma-opa yang akrab dengan bahasa Belanda. Jadi, tidak terlalu ngeh pada beberapa kata yang berasal dari bahasa Belanda. Seperti kata “soak” yang berarti lemah, tidak kuat lagi. Kata ini mengacu pada kata Belanda “zwak” yang berarti lemah. Bahkan beberapa istilah Belanda masih digunakan dalam bidang-bidang tertentu seperti hukum. Salah satunya Commanditaire Vennootschap (CV).

Sebagian besar kita kini akrab dengan bahasa Inggris. Wacana bahasa Indonesia sangat dipengaruhi oleh bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Maka, tak heran bila muncul beragam kerancuan yang menggelikan akibat mencampuradukkan pemakaian kedua bahasa tersebut. Kata-kata itu kadang dipergunakan secara keliru, seperti spooring & balancing. Kata “spooring” ternyata bukan dari bahasa Inggris, tapi dari bahasa Belanda yang diinggriskan tapi di Inggris sendiri kata-kata itu nggak ada (yang digunakan adalah “tracking and balancing”). Fakta lainnya adalah kita menyebut kain penutup mulut dan hidung dengan sebutan “slayer”. Sementara kata slayer dalam bahasa Inggris berarti pembantai. Seperti pada judul serial Buffy the Vampire Slayer. Jadi, dari mana sebutan slayer itu berasal? Rupanya berasal dari kata dalam bahasa Belanda yang secara semena-semena disulap menjadi kata Inggris, yaitu sluier. Kata ini mengacu pada cadar atau penutup wajah yang dikenakan pengantin wanita.

Banyak juga kerancuan, ketidaksesuai dalam bahasa. Contohnya seperti judul buku ini. Kata vital, yang mengacu pada bahasa Inggris, lebih jauh lagi pada bahasa Latin, berarti sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan. Tapi kenapa alat vital mengacu pada bagian reproduksi laki-laki?

Ada banyak ungkapan bahasa Indonesia lawas, tempo dulu yang mungkin tidak lagi akrab di telinga kaum masa sekarang. Ungkapan pulau kapuk mungkin asing bagi anak muda sekarang. Karena tak banyak digunakan, selain itu juga kurasa kapuk sebagai bahan kasur sudah kian sedikit digunakan. Sebagian besar kasur menggunakan busa.

Makan angin bermakna jalan-jalan. Bagi generasi dewasa, mendengar frase macam itu sangat terasa nostalgik. Sedangkan, bagi generasi muda mungkin akan mengernyitkan dahi mendengarnya.

Salah satu bahasan yang menarik dalam bab ini adalah ternyata ada 12 kata “no” dalam bahasa Indonesia. Seperti beberapa bangsa lain di kawasan Asia, orang Indonesia menjunjung konsep kehormatan diri (the concept of face) dan tidak ingin mempermalukan sehingga kata “tidak” disamarkan dengan ungkapan yang tidak menyinggung perasaan. Hal semacam ini juga aku temukan saat belajar bahasa Jepang dan bahasa Mandarin.

Cara/intonasi orang mengatakan kata “tidak” dan juga bahasa tubuh menambah rumit untuk mengartikannya. Ini salah satu kesulitan orang untuk menangkap makna tersirat dari yang tersurat. Tak cuma orang asing yang kesusahan, aku secara pribadi pun kerap kesusahan mengartikan.

Salah satu kata yang sering jadi bahan candaan adalah puting beliung untuk menjelaskan fenomena angin ribut. Sebagian dari kita menganggap kata “puting” dalam puting beliung sama dengan kata “puting”seperti yang menerangkan bagian pada payudara. Ternyata bukan. Puting yang dimaksud dalam puting beliung adalah besi panjang pada pangkal kapak yang ditancapkan pada gagang kayu. Beliung sendiri berarti kapak berukuran besar. Bentuk taifun mirip pangkal kapak yang lancip di bawah dan makin melebar ke atas. Begitulah kata puting beliung terbentuk.

Tak cuma soal warisan Belanda dalam bahasa Indonesia yang dibahas dalam buku ini.  Buku ini juga menjelaskan perbedaan pada bahasa Indonesia dan Malaysia. Bagaimana bahasa serumpun ini memiliki perbedaan yang mencolok. Karena pengaruh negara penjajah, bahasa Indonesia banyak menyerap kata dari bahasa Belanda, sedangkan bahasa Malaysia menyerap dari bahasa Inggris. Kata ban yang kita kenal berasal dari bahasa Belanda, sedangkan orang Malaysia menyebutnya tayar, dari kata tyre.

Membaca buku ini menyenangkan dan informatif. Bahasa Indonesia bila ditelusuri lebih dalam ternyata sangat menarik. Mungkin karena sudah terbiasa dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, kita menganggapnya biasa dan lebih terpukau dengan bahasa asing. Kita kurang dalam menggali untuk menemukan keindahan dan keunikan bahasa Indonesia. []

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *