Press "Enter" to skip to content

[Resensi] Don’t Follow Your Passion, It’s A Trap

Membongkar Sihir Follow Your Passion

“Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai. Satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan hebat adalah dengan mencintai apa yang kalian lakukan. Jika kalian belum menemukannya, teruslah cari. Jangan berpuas diri.”

don't follow passion-Cal Newport

Itu adalah pidato Steve Jobs di hadapan 23.000 ribu wisudawan Universitas Stanford pada Juni 2005. Seperti sebuah sihir yang memukau, pidato tersebut mendorong para wisudawan untuk mengejar mimpi mereka. Rekaman pidato tersebut kemudian diunggah ke YouTube dan menjadi viral.

http://https://www.instagram.com/p/BHOkLG9g9At/?taken-by=misni_p

“Follow your passion” menjadi kalimat yang hype. Banyak buku yang bermunculan mengulas tentang passion dalam pekerjaan. Intinya seputar kebahagiaan di tempat kerja. Ikuti passion agar bisa bahagia.

Namun, kenyataannya tidak sesimpel itu. Mantra follow your passion ini penuh jebakan ternyata, setidaknya begitu menurut Cal Newport.

Follow your passion seolah menjadi pegangan bagi para muda dalam bekerja atau mencari kerja. Kita tergila-gila dengan konsep tersebut. Generasi Y dicap tidak punya loyalitas terhadap perusahaan karena mereka bagaikan kutu loncat. Keluar bila pekerjaan tidak sesuai passion. Beberapa kritikus bahkan melabeli bahwa generasi ini paling ngehek.

Buku Don’t Follow Your Passion ini mendedah soal mantra follow your passion.

Passion bukanlah sebab namun akibat. Orang-orang yang mengikuti mantra follow your passion cenderung meniru perkataan Jobs bukan tindakannya. Jika membaca biografi Jobs tentang pekerjaannya, apa yang dilakukan, maka awalnya sama sekali bukan perkara passion.

Ada beberapa aturan yang diikuti untuk menghindari jebakan passion.

#1 jangan ikuti passion Anda

Menjadi mahir dalam bidang apa pun membutuhkan waktu. “Kuncinya paksa diri Anda melalui bekerja. Paksa hingga keahlian itu muncul. Itulah fase terberat.” Demikian kata Ira Glass, salah satu penyiar radio terkenal saat dimintai saran bagaimana cara “mengetahui apa yang kita inginkan” dan “mengetahui apa yang akan bisa kita lakukan dengan baik.”

Ada beberapa hal menarik yang diungkapkan dalam buku ini. Sebuah penelitian dilakukan oleh Robert J. Vallerand, psikolog asal Kanada terhadap 539 responden mahasiswa di Kanada. Kuesioner tersebut dirancang untuk menjawab dua pertanyaan penting: apakah mereka memiliki passion? Jika ya, apa saja?

Asumsinya bahwa setiap orang memiliki passion yang menanti untuk ditemukan. Penelitian tersebut menguji asumsi tersebut. Dari penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa 84 persen responden teridentifikasi memiliki passion. Namun, kurang dari 4 persen dari passion yang teridentifikasi tersebut punya kaitan dengan pekerjaan atau pendidikan. Sisanya 96 persen menggambarkan minat berdasarkan hobi, olahraga, dan seni.

Sedemikian rupa waktu yang dibutuhkan untuk menjadi mahir, maka tidak heran bila passion merupakan efek samping penguasaan keahlian. Semakin kita mahir dan menguasai sebuah bidang, kita menyaksikan kinerja kita bermanfaat bagi orang lain, mengembangkan relasi kuat dengan rekan kerja. Hal-hal demikianlah yang membuat kita bahagia. Kita merasakan kompetensi dalam bidang tersebut, ada keterkaitan dengan orang lain dalam bidang tersebut, serta kita merasakan otonomi dalam bekerja. Bekerja dengan tepat lebih baik daripada menemukan pekerjaan yang tepat.

#2 Jadilah pribadi hebat hingga mereka tidak bisa mengabaikan Anda.

Cal Newport memperkenalkan dua pendekatan yang berbeda dalam bekerja, yaitu pola pikir perajin dan pola pikir passion. Pola pikir perajin berfokus pada nilai apa yang Anda hasilkan dalam pekerjaan Anda. Pola pikir passion berfokus pada nilai apa yang pekerjaan Anda berikan kepada Anda. Pola pikir perajin penting dalam membangun karier yang kita cintai, apa pun profesi kita.

Bila pola pikir passion yang diterapkan saat membangun karier, akan berujung pada frustrasi. Tugas-tugas remeh dan rasa frustrasi terhadap birokrasi kantor membuat tertekan. Tantangan dan otonomi dalam proyek biasanya didapatkan setelah agak lama bekerja.

Menerapkan pola pikir perajin memberi Anda modal karier.

Beberapa hal yang harus dihindari dalam menerapkan pola perajin

  1. Pekerjaan itu memberikan sedikit kesempatan kepada Anda untuk menjadi unggul. Keunggulan yang dimaksud diperoleh dari mengembangkan keahilian-keahlian yang relevan, langka dan berharga.
  2. Pekerjaan itu memaksa Anda bekerja dengan orang yang benar-benar tidak Anda sukai.

Contoh modal karier adalah apa yang dilakukan oleh Alex Berger. Ia seorang penulis naskah acara televisi yang sukses dan mencintai pekerjaannya. Ia berfokus pada keahlian, bukan memburu passion mereka. Masuk dunia penulisan naskah televisi sangat sulit. Penulis naskah televisi adalah pekerjaan yang fantantis dan menghasilkan uang yang lebih dari cukup. Tak heran begitu banyak orang yang bercita-cita menjadi penulis naskah TV. Saat pindah dia tidak terlalu yakin dengan cita-citanya. Ia berpikir bisa saja dia menjadi penulis naskah televisi. Pekerjaan awalnya sebagai penyunting situs web national lampoon. Alex pun mengetahui apa yang dibutuhkan para penulis agar berhasil menarik perhatian petinggi stasiun TV: mereka menulis naskah yang menarik. Terdorong oleh pemahaman ini Alex mengalihkan perhatian ke menulis. Banyak menulis. Ia menulis hingga pukul 02.00 atau 03.00 pagi. Dia juga mengusulkan ide-ide. Ia mengembangkan keahlian menulis selama beberapa tahun sebelumnya, yaitu waktu dia sering mengerjakan tiga hingga empat naskah sekaligus. Dia juga selalu meminta masukan dari orang lain agar kualitas naskahnya menjadi lebih baik.

Lima kebiasaan perajin:

Langkah 1: tentukan pasar modal Anda.

Ada dua tipe pasar, yaitu pasar kompetitif dan pasar lelang. Menulis naskah acara TV termasuk ke dalam pasar kompetitif karena yang terpenting adalah kemampuan Anda dalam menulis naskah yang menarik.

Pasar lelang kurang terstruktur. Pasar ini memiliki banyak jenis modal karier dan setiap orang dapat memiliki beberapa jenis. Kesalahan yang dilakukan adalah menganggap pasar kompetitif sebagai pasar lelang. Contohnya, menulis blog. Penulis blog pemula menganggap menulis blog sebagai pasar lelang. Penulis blog tersebut menginventasikan waktunya secara serius dengan sebanyak mungkin mempublikasikan tulisannya ke situs-situs jejaring sosial. Padahal, satu-satunya modal yang penting adalah apakah tulisan kita menarik perhatian pembaca atau tidak. Sejumlah blog ternama memiliki desain yang bisa saja namun blog tersebut mencapai tujuan dasar yang sama: menginspirasi pembaca.

Langkah 2:

Kenali jenis modal Anda

Begitu Anda mengenali pasar Anda, harus mengenali jenis modal yang spesifik. Mudah jika Anda berada di pasar kompetitif, sebab hanya ada satu jenis modal yang penting. Pasar lelang bersifat fleksibel. Anda harus mencari peluang. Terbukanya peluang-peluang itu membuat kita lebih cepat dan lebih jauh dalam memperoleh modal karier, dibandingkan memulainya dari nol.

Langkah 3:

Tentukan makna “mahir”

Kita memerlukan tujuan yang jelas untuk mengetahui keahlian apa saja yang perlu dikuasai. Bagi Alex Berger, makna mahir adalah naskahnya dianggap penting.

Langkah 4:

Kembangkan dan hancurkan

Setelah melakukan banyak latihan, Anda merasa nyaman. Langkah selanjutnya adalah menerima masukan yang jujur walaupun itu menghancurkan apa yang Anda kira bagus. Kita bisa saja berasumsi bahwa apa yang kita lakukan sudah cukup baik dan menyingkirkannya dari daftar kewajiban. Untuk menguji apakah kemampuan kita sudah cukup bagus. Meminta pendapat jujur penting dilakukan. Selain itu, coba terbuka dan kritis terhadap asumsi-asumsi sebelumnya.

Langkah 5:

Bersabarlah

Rajin bukan lagi tentang memperhatikan tujuan utama kita, melainkan mengabaikan tujuan lain yang bermunculan dan mengusik perhatian kita. Stay focus!

Yang penting bukan bagaimana Anda memulainya, mungkin yang lebih penting adalah apa yang Anda lakukan berikutnya. Di sini skill menjadi sangat penting. Skill yang mumpuni menjadi modal karier.

Orang yang punya keahlian luar biasa pada sebuah bidang, umumnya pada awalnya bukanlah orang yang memiliki bakat atau passion yang kuat pada bidang tersebut. Sebagai contoh, seorang pemain piano andal yang memenangi berbagai kompetisi. Mungkin awalnya karena menyenangi. Punya guru piano yang menyenangkan, bermain dan belajar piano menyenangkan. Karena dilakukan dengan rasa senang, mendapat kepercayaan diri, mau berlatih lagi. Maka seiring waktu kemampuannya meningkat. Terjadilah efek bola salju. Passion bermain piano tumbuh seiring kemampuan yang meningkat. Menjadi seorang penulis penuh waktu yang dapat produktif menulis, selain itu hasil tulisannya dapat menopang kehidupannya itu juga salah satu impian banyak orang. Namun tak banyak penulis yang mampu melakukannya. Anda harus menjadi seorang Tere Liye dan Dee dulu. Modal karier Tere Liye dan Dee pun dibangun selama sekian lama.

Seorang perajin yang berlatih menyempurnakan teknik, sehingga pada saatnya teknik tersebut dijadikannya batu loncatan.

#3 menolak promosi jabatan

Memiliki lebih banyak kontrol dapat meningkatkan prestasi, produktivitas. Mempunyai pekerjaan yang memungkinkan kita memegang banyak kontrol menjadi impian banyak orang. Bekerja dari rumah, misalnya, banyak dilakukan. Keinginan melepas pekerjaan lalu berwiraswasta. Atau mengelola perkebunan setelah mengundurkan diri sebagai bankir. Namun kontrol yang diperoleh tanpa modal karier tidak akan bertahan lama. Itulah sebab kita butuh modal karier yang cukup. Anda harus terlebih dahulu menghasilkan modal dengan menjadi mahir dalam sesuatu yang langka dan berharga.

#4 berpikir sederhana, bertindak besar

Punya misi jelas tentang hal yang ingin dicapai.

Penjelasan Cal Newport ini juga dapat Anda lihat dalam video ini.

Bagi para mahasiswa tingkat akhir, pekerja fresh graduate, renungkan apakah selama ini terjebak pola pikir follow your passion?

Kerap kali bingung soal pilihan, apakah melakukan hal A yang lebih sesuai dengan passion, tapi kurang menjanjikan secara finansial, ataukah hal B, cari pekerjaan dapatkan kenyamanan finansial?

Be so good so they can’t ignore you.

Bekerja dengan/sesuai passion ditemukan pada hal yang memberi manfaat pada komunitas. Tak hanya individu itu sendiri.Your vocation is where your passion meets the world greatest need.

Dan, ingat bahwa passion itu sebuah keistimewaan ‘privilege’.

Sebagian dari kita bisa mengikuti passion, bekerja sesuai passionnya karena mungkin orang tuanya bekerja keras, memberi jalan bagi anak-anaknya jalan yang dulu tidak didapatkan mereka. Jika kamu menemukan passionmu dan bisa menjalankannya, jalankanlah dengan rasa syukur. []

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *