Press "Enter" to skip to content

Fateful Coincidence

Jumat (3/6) sebelum bulan puasa aku berniat menonton pertunjukan musik. Beberapa waktu sebelumnya aku pernah melihat poster pertunjukan di warnet. Dan, ke sanalah aku. Aku pergi ke ISI sebelum pukul tujuh. Aku melihat auditorium ISI masih sepi. Aku lupa apakah acaranya di auditorium ISI atau auditorium jurusan musik. Ah, aku pun lupa di mana letak auditorium musik. Intinya, tidak ada aktivitas atau keramaian yang menandakan adanya sebuah acara. Aku yang sebelumnya masuk lewat samping isi, lalu beranjak ke depan ISI. Di samping gerbang ISI, aku melihat spanduk pertunjukan musik pada Jumat pukul 19.30. Judul pertunjukannya menggunakan kata dalam bahasa Turki, menurutku. Dan itu kerja sama dengan Erasmus Huis. Aku yakin bukan poster itu yang kulihat sebelumnya di warnet. Suatu kebetulan. Aku akhirnya memutuskan menonton pertunjukan itu. Karena belum jam 19.30, aku menyempatkan diri bertandang ke Radiobuku.

Menjelang pukul 19.30 aku ke auditorium ISI. Dari pamflet yang diberikan, nama pertunjukan malam itu adalah Göksel Yilmaz ensemble. Mereka adalah ensemble yang beranggotakan multietnis. Malam itu mereka akan membawakan lagu-lagu dari Turki, Syria, Lebanon, Mesir, dan Kurdistan. Di sana, saat aku mencari tempat duduk yang strategis, aku duduk di samping seorang perempuan berwajah oriental. Pertunjukan baru dimulai setengah jam kemudian. Aku iseng memperhatikan perempuan di sampingku. Dia sedang Facebook-an. Dari layar, terpampang aksara Cina. Jadi, aku berniat menyapanya dalam bahasa Cina. Hei, sekadar mengecek bahwa yang kupelajari tak sia-sia. Dan, saat aku melihat dia mengetik dengan ponselnya, aku yakin dia orang Taiwan. Seorang kenalanku, yang mengajariku bahasa Cina, pernah bilang bahwa orang Taiwan menggunakan input method yang berbeda dari orang Cina daratan.

Aku ingin menyapa, tapi perempuan ini sedang serius dengan ponselnya. Ah.., aku begitu gugup. Apakah aku harus menyapanya? Ini kesempatan, kata hatiku. Kapan lagi? Kalau aku tak menyapa sekarang, apa aku akan dapat kesempatan lagi?! Begitu gugupnya hingga aku merasa ingin muntah. Ini benar-benar sesuatu yang jarang kualami. Apa lagi, waktu pertunjukan hampir dekat, aku tak mungkin mengobrol dengan dirinya selama pertunjukan.

Akhirnya, aku menyapa dengan bahasa Indonesia, “Kamu mahasiswa di sini?” Dia menatapku dan berekspresi agak bingung. Aku tanya sekali lagi dalam bahasa Inggris, “Are you student?”

Dia menjawab dengan bahasa Indonesia agak kaku. “Iya, saya belajar kawaritan.”

Ni shi Taiwan ren ma?” tanyaku agak pelan. Aku agak gak percaya diri bicara dalam bahasa Cina.

Dan dia sangat terkejut. “Shi.”

Aku bilang bulan lalu ada teman yang mengajariku bahasa Cina. Dan saat dia tanya bagaimana aku tahu bahwa dia orang Taiwan, aku bilang cuma menebak. Menjelaskan bahwa aku memperhatikannya saat dia mengetik di ponselnya agak merepotkan. Lalu aku bertanya namanya. Dia lalu menuliskan namanya di pamflet pertunjukan dalam aksara Cina. Saat dia menuliskan namanya, aku mengenali salah satu aksaranya. “Lin,” kataku.

Yeah. You know?” Itu salah satu dari sedikit aksara Cina yang aku tahu. Dia bilang dia punya nama Jawa. Dan dia menulis Lintang.

Xing?” ujarku.

Xing-xing adalah kata Cina untuk bintang. Dia kaget aku juga tahu itu.

Gantian aku yang menuliskan namaku. Dia lantas bertanya apa aku punya Facebook.

“Iya, aku punya.”

Dia kemudian memintaku menuliskan nama di ponselnya. Dan, saat menemukan profilku, dia terkejut. “You know Zac ge?”

Aku agak bingung awalnya. Ah, ya. Zac, aku kenal. Dia yang mengajariku bahasa Cina. Jadi, kami punya mutual friend sama. Heh, what a small world. Lintang bilang dia dua kali bertemu Zac di Jogja.

“Saat ini dia sudah pulang,” katanya.

“Ya, aku tahu.”

Aku sangat lega sebenarnya bisa menuntaskan menyapa Lintang. Dan ternyata, kami punya teman yang sama. Kegugupanku tadi untuk menyapanya terbayar, dan ditambah bonus, yaitu teman baru.

Selesai pertunjukan Lintang bertanya, apa aku mau meneruskan belajar bahasa Cina?

“Iya, aku ingin.”

Kami akhirnya sepakat untuk bertukar, ya aku belajar bahasa Cina, dia belajar bahasa Indonesia. Dia bilang tidak punya banyak teman Indonesia.

Aku bertanya di mana dia tinggal?

Dia bilang tinggal di depan ISI.

Aku bertanya apa dia punya WhatsApp. Dia tidak punya. “I have BBM,” ujarnya. Lalu aku ingat bahwa LINE sangat populer di Taiwan, dan aku juga punya LINE. Jadi, kami bertukar ID LINE. Kami sempat berfoto bersama. Dan aku berjanji akan menghubunginya.

Lintang and Me

Dua hari kemudian, pada hari Minggu, aku berencana ke Manding, untuk menanyakan pesanan sepatuku. Kupikir, sekalian saja aku mengunjungi Lintang. Sore itu, aku menghubungi Lintang bahwa aku ingin ke kosnya. Aku menunggunya di depan gerbang ISI. Saat menunggunya, aku sempat membuka Facebook. Dia menandaiku. Dia menceritakan pertemuan kami di pertunjukan musik dan bagaimana kami mempunyai teman yang sama.

Lintang pun menjemputku. Aku disambut di kosnya.

Lintang lantas bercerita bahwa selama empat bulan tinggal di Jogja, aku orang pertama yang tepat menebaknya orang Taiwan. Sebelumnya, orang mengira Lintang berasal dari Cina (yang menurutku bisa dimengerti), lain waktu orang akan mengatakan, “Konnichiwa” atau “Annyeoung haseyo.”

Lintang juga bercerita apa yang dialami ini sebuah yuan fen (緣分). Konsep ini sangat kuat di budaya Cina. Biasanya diterjemahkan sebagai nasib, atau takdir. Tapi sebenarnya konsep yuan fen lebih luas. Kamu pernah bertemu orang dan langsung merasa bahwa kalian akan jadi teman baik? That’s yuan fen. Fateful coincidence. Semesta seakan berkonspirasi untuk mewujudkan peristiwa tersebut. Mungkin di kehidupan sebelumnya kami adalah teman.

Dan, aku dan Lintang menjadi teman.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *