Press "Enter" to skip to content

[Drama Sneak Peek] Fleet or Fight

Berikut adalah ulasan tentang drama Jepang Nobunaga Concerto.

Saat masalah datang, secara insting kita memilih lari. Tapi hal itu selamanya tidak akan menjadi baik. Kita tak bisa terus-menerus melarikan diri dari masalah karena cepat atau lambat akan menghampiri kita.

Saburo (Oguri Shun) punya kebiasaan melarikan diri dari masalah. Tak ingin mendengar penolakan saat ia menyatakan cinta, dia pura-pura menerima telepon dan pergi sebelum mendengar gadis itu menyelesaikan perkataannya.

Saat itu, ia dan teman-temannya tengah berada di replika desa di zaman perang. Setelah terpeleset dan terjatuh dari sebuah atap, Saburo mendapati dirinya berpapasan dengan seseorang yang berwajah mirip dengannya. Orang berwajah mirip dengannya mengatakan bahwa ia bernama Oda Nobunaga, dan ingin Saburo menggantikan posisinya. Sebagai bukti, orang tersebut memberikan pedangnya kepada Saburo. Saburo mengira itu bagian dari pertunjukan. Jadilah Saburo menyetujui hal tersebut. Segera orang yang berwajah mirip dengannya itu meninggalkan tempat itu begitu terdengar teriakan memanggil nama Oda Nobunaga.

Orang-orang  yang memanggil-manggil nama Oda Nobunaga menghampiri Saburo yang mereka kira adalah Oda Nobunaga. Dibawalah Saburo ke kastil klan Oda. Tentu saja para pelayan klan Oda bingung dengan perubahan sikap majikan mereka. Namun, Tsuneoki (Mukai Osamu), Moririn—orang yang menemukan Nobunaga—meyakinkan itu karena sang majikan sempat jatuh dari kuda.

Saburo kemudian ikut dalam sebuah pertempuran melawan Imagawa, yang masih dikiranya sandiwara. Sampai akhirnya ia sadar bahwa itu adalah perang sungguhan, para prajurit benar-benar bertarung hingga terluka, bahkan mati.

Saburo akhirnya sadar bahwa terdampar di zaman Sengoku (di sejarah Jepang ditandai pergolakan sosial, konflik-konflik militer). Dalam keadaan terkejut, ada prajurit dari pihak Oda yang mencoba membunuhnya, untung saat itu Tsuneoki sigap segera membunuh prajurit itu.

Saburo pun makin kaget saat Tsuneoki mengatakan bahwa prajurit tadi pasti suruhan Nobuyuki, sang adik Nobunaga. Tak mungkin keluarga saling membunuh. Saburo sadar itulah sebabnya orang yang tadi ia temui ingin agar Saburo menggantikannya sebagai Oda Nobunaga. Peringatan bahwa jika para pelayan kastil tahu ia adalah Oda Nobunaga yang palsu mereka pasti akan membunuhnya membuat Saburo tak bisa melakukan apa-apa selain melanjutkan sandiwaranya.

Saat itu di klan Nobunaga sedang memasuki masa genting. Oda Nobuhide, sang ayah, akan memutuskan siapa yang akan mewarisi klan Oda, Nobunaga atau Nobuyuki. Oda Nobuyuki sangat ingin menyingkirkan sang kakak. Gagal membunuh Nobunaga di pertempuran, ia menyuruh orang menculik Kichou, istri Nobunaga, saat keluarga Kichou datang. Pernikahan Nobunaga dan Kichou lebih merupakan kontrak politik. Jika sesuatu buruk terjadi pada Kichou, maka klan Oda akan diserang.

Saburo marah kepada orang-orang karena pencarian terhadap Kichou lebih karena takut bahwa kepala mereka akan dipenggal ketimbang karena khawatir terhadap keselamatan Kichou. Lebih marah lagi saat tahu sang adik menggunakan Kichou untuk menyerangnya. Ia pun memperingatkan Nobuyuki, jika ingin berhadapan dengannya, langsung saja. Tak usah menggunakan orang lain. Sikap yang sebelumnya tidak pernah ditunjukkan oleh Nobunaga yang asli.

Sang ayah dibunuh. Dalam keadaan sekarat, Nobuhide menyerahkan tampuk kekuasaan klan kepada Nobunaga. Saburo a.k.a Nobunaga tak mau menerima. Karena bagaimanapun ia bukan bagian dari klan. Ia adalah Saburo bukan Nobunaga.

Sekali lagi ia melakukan apa yang biasa ia lakukan; melarikan diri. Namun, ia menyadari tak selamanya ia akan terus menghindar. Akhirnya, ia memutuskan untuk menerima posisi itu. Menjadi pemimpin klan.

Tentu saja begitu menjadi pemimpin, ia mengeluarkan kebijakan-kebijakan “aneh” untuk orang-orang pada masa itu. Seperti ada hari libur, makan 3 kali sehari, dsb. Bahkan ia memberikan tanah yang dulu menjadi perebutan antara Nobuhide dan Nobukiyo. Kebijakan yang membuat berang Tsuneoki karena dulu ayahnya meninggal dalam peperangan mempertahankan tanah itu.

Nobuyuki tentu saja memberontak terhadap Nobunaga. Pihak Nobunaga hampir kalah jika saja Nobukiyo tidak memberikan bantuan. ia membantu sebagai bentuk balas budi kepada Nobunaga yang telah memberikan tanah sengketa.

Perang saudara pecah. Nobuyuki memberontak melawan Nobunaga. Banyak pelayan yang mati. Nobunaga menyaksikan sendiri kehancuran pasca perang tersebut.

Di luar dugaan orang-orang, Nobunaga tak menghukum mati Nobuyuki. Hal yang tak wajar kala itu. Pengkhianat, musuh haruslah dibunuh. Ia mengampuni Nobuyuki bukan karena kasihan, tapi karena ia keluarga. Para prajurit ikut perang saudara itu punya keluarga yang menunggunya pulang ke rumah dengan selamat. Namun, mereka mati demi ambisi Nobuyuki yang menganggap mereka tak lebih dari pion.

***

Di zaman perang, keadaan yang damai, aman sepertinya hanyalah sebuah khayalan. Perdamaian adalah sesuatu yang mustahil. Masyarakat selalu hidup seperti itu, terkungkung dari satu perang ke perang yang lain.

Saburo a.k.a Nobunaga yang merasakan damainya Jepang—karena ia berasal dari masa depan—berusaha menyakinkan bahwa ada masa penuh kedamaian. Tidak ada perang. Ia menyadari bahwa ia mendapatkan kedamaian itu tanpa repot. Hidup di tahun 2014, kedamaian ibarat sesuatu yang sudah ada dari sononya (taken for granted).

Oharu: “Sejak aku lahir sudah ada perang. Dan beginilah aku hidup. Kedepannya negeri ini akan selalu seperti itu; berperang.”

Saburo/Nobunaga: “Kau salah. Nantinya negeri ini akan tahu kedamaian, tidak ada perang. Gadis sepertimu bisa bersekolah, berbelanja, bermain. Sebuah masa depan di mana hal-hal yang menyenangkan pasti akan datang.”

Oharu: “Siapa yang akan menciptakannya dunia seperti itu? Itu sebuah mimpi.”

Saburo menentang ide tentang perang. Di era Sengoku, peperangan adalah suatu yang wajar. Ia berpikir perang hanya baik untuk menyakiti orang. Namun, kemudian ia menyadari bahwa banyak orang yang bisa diselamatkan oleh sebuah peperangan. Orang-orang seperti penduduk yang ibarat pelanduk di antara gajah yang tengah bertarung. Itulah sebabnya Saburo tidak lagi melarikan diri.

Saburo telah merasakan masa tanpa perang, masa penuh kedamaian. Setiap orang di sekitarnya awalnya menganggap impian Nobunaga hanyalah khayalan belaka. Namun, tekad dan tindakan Saburo membuka mata mereka bahwa dunia tanpa perang sangat mungkin terjadi. Di sisi lain, Saburo juga tak bisa berpaling bahwa perang juga dibutuhkan. Untuk menciptakan dunia tanpa perang, ia harus menaklukkan negeri. Mereka menjadi pengikut yang loyal. Pelan-pelan, Saburo menjadi Oda Nobunaga, orang yang mempersatukan Jepang.

Lalu bagaimana dengan Oda Nobunaga yang asli? Dalam drama ini, Oda Nobunaga yang asli menjadi salah satu pengikut dengan nama Akemichi Mitsuhide. Nama ini juga ada dalam sejarah. Ia membantu Saburo mewujudkan impian menaklukkan negeri. Namun, sepertinya ia punya agenda pribadi.

***

Oda Nobunaga adalah pahlawan besar Jepang. Dialah yang menyatukan Jepang. Live action drama ini diangkat dari sebuah komik berjudul sama; Nobunaga Concerto. (spoiler) Versi live actionnya berbeda dengan versi anime.

Kepiawaian si penulis untuk menyisipkan perjalanan waktu sangat tepat. Menurut catatan sejarah, sikap Oda Nobunaga agak selengekan. Dia dipanggil “si Bodoh” oleh Kichou. Tak terlalu menahan diri dalam hal tata krama, dsb. Dalam drama ini hal adalah sikap Saburo. Saburo yang menjadi Oda Nobunagalah yang bercita-cita dan unifikasi, penaklukan klan-klan.

Beda dengan drama lain yang bertema perjalanan waktu. Biasanya tokoh dari masa depan lebih kelihatan cerdas, punya kemampuan yang penting, seperti misalnya drama Dr. Jin. Ia adalah seorang dokter. Saburo hanyalah seorang remaja SMA (Iya, versi komik dan anime—agak aneh lihat Shun Oguri berumur 30-an mengenakan seragam SMA) Bukan anak yang pandai di kelas, tak terlalu memerhatikan pelajaran, dsb. Ia hanya punya ketulusan dan keyakinan. Ia telah merasakan kedamaian di masa kini. sesuatu yang dia terima langsung jadi. Ia ingin membawa hal itu di zaman perang. Mengakhiri peperangan.

Saburo/Nobunaga/Mitsuhide diperankan oleh Shun Oguri. Dia mampu memerankan ketiga tokoh ini dengan jangkauan emosi yang luas.

Drama seri berdurasi satu jam ini setiap episodenya menghadirkan jangkauan emosi yang luas. Mulai dari lucu, hingga sedih menyesakkan hati. Musik sountrack yang mengiringi drama ini juga bagus. Menambah kuat adegan-adegan yang tersebut. Kesebelas episode drama ini ditutup oleh cerita yang menggantung. Membuatku menantikan versi filmnya. Seperti halnya yang biasa dilakukan versi drama biasanya diikuti oleh edisi film. Filmnya akan menjawab apakah riwayat Oda Nobunaga akan sama seperti dalam sejarahnya.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *