Press "Enter" to skip to content

Jejak Sejarah Klenteng Fuk Ling Miau

Sabtu pagi ikut acara Kelas Heritage, sebuah program jelajah bangunan warisan budaya. Ingin tahu info lengkapnya, sila cek Twitter @malamuseum. Kali ini mengunjungi Klenteng Fuk Ling Miau atau yang lebih dikenal sebagai Klenteng Gondomanan.

Ini pengalaman pertamaku memasuki tempat ibadah umat Konghucu.

Ciri khas klenteng adalah dominasi warna merah dan emas. Warna yang melambangkan kemakmuran, keberuntungan, dan sukacita. Ada sejumlah relief di sisi depan klenteng. Di dinding samping ada sejumlah lukisan yang sepertinya menggambarkan serial kejadian. Klenteng pasti memiliki tiga pintu. Pintu utama, yang berada di tengah diberi semacam pagar kayu setinggi kira-kira 30 sentimeter. Mereka yang hendak beribadah, dsb, masuk lewat pintu samping kanan, keluar lewat pintu kiri. Pagar kayu tersebut hanya dibuka kala dewa patron klenteng “keluar”, misal patungnya diarak. Di daun pintu utama, terdapat lukisan dewa penjaga pintu.

Lilin berbagai ukuran diletakkan di sekitar altar. Lilin tersebut sebagai bagian rasa syukur, permohonan doa keselamatan, harapan, dsb. Di bagian bawah tiap lilin dituliskan nama orang/keluarga yang punya (sepertinya kata punya kurang tepat, penyumbang? Pembeli?)

lilin

Ada lilin-lilin setinggi pilar. Memang tidak setiap saat dinyalakan. Lilin-lilin setinggi itu (ada ukurannya sih, biasanya dalam kati (1  kati =6, 25 ons) tapi aku lupa. Lilin-lilin yang tinggi tersebut seharga sekitar Rp22juta.

Pagi itu, kami disambut oleh Pak Angling dan Pak Eko, pengawas dan pengurus klenteng. Beliau berdua bercerita banyak seputar klenteng.

Pak Eko & Pak Angling
Pak Eko & Pak Angling

Klenteng ini ada sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku ke-II. Klenteng ini dibangun pada tahun 1854. Sebagai hadiah/tempat beribadah untuk salah satu selirnya yang berasal dari Tiongkok. Pada mulanya, klenteng ini bernama Hok Tik Bio untuk pemujaan kepada Dewa Bumi (Hok Ting Cing Sin). Di Yogyakarta, ada dua klenteng, yaitu di Gondomanan dan Poncowinatan. Meski sama-sama klenteng, keduanya memiliki dewa yang berbeda.

Patron dewa klenteng ini adalah Dewa Bumi. Sedangkan “tuan rumah”  di klenteng Poncowinatan adalah Dewa Keadilan. Dalam kepercayaan Konghucu dewa patron adalah tuan rumah. Mungkin, dulu dewa yang disembah oleh sang selir sultan adalah Dewa Bumi, sehingga saat membangun klenteng tersebut, patron yang dipilih adalah Dewa Bumi. Ada sekitar lima belas dewa, antara lain Dewa Bumi, Tian Shang, Dewa Obat, Dewi Bulan, Dewa Penjaga Pintu,  Dewi Kwan Im, …. aku lupa. Mereka memiliki altar sendiri-sendiri.

dewa bumi

Dalam kepercayaan Konghucu, dewa patron adalah tuan rumah. Dalam segala hal yang berkaitan dengan klenteng, selalu ditanyakan kepada sang dewa patron, berkenan atau tidak. Misal, ada pemugaran, dsb. Dengan melempar poa pwe. Jika hasil lemparan salah satu poa pwe terbuka, maka iya. Jika kedua poa pwe tertutup maka tidak. Semua tergantung dengan hasil lemparan poa pwe. (Di luar soal kepercayaan, aku kira menarik bagi seseorang yang mahir matematika memperkirakan kemungkinan lemparan poa pwe. Seseorang seperti Hugh Alexander dalam film The Imitation Game)

poa pwe
poa pwe

Lalu ada ciam si. Meminta petunjuk ala kepercayaan Konghucu. Itu, seperti yang kita lihat di serial silat, mengocok semacam sumpit dalam bambu. Setiap bilah sumpit telah diberi nomor. Pertama, seseorang memohon petunjuk lewat sembahyang, kemudian melempar poa pwe. Jika poa pwe menunjukkan sisi yang berbeda, orang tersebut diberi izin oleh dewa untuk diramal. Ia bisa melakukan ramalan ciam si. Kemudian orang tersebut mengocok hingga jatuhlah satu bilah, angka yang tertera pada bilah disesuaikan dengan kertas yang ada di kotak ramalan. Dan, dibacalah makna syair dan ramalan yang tertera di sana.

Jika ini adalah klenteng, mengapa di plang juga dituliskan vihara dan ada altar persembahan Buddha?

Oleh pemerintah era Presiden Soeharto, etnis Tionghoa dianggap nonpribumi sehingga harus meninggalkan ketionghoaannya kalau ingin menjadi orang Indonesia tulen. Sejak itu, terjadi upaya pemberangusan kebudayaan Tiongkok.

Penggunaan bahasa dan aksara Tionghoa dilarang, media massa berbahasa Tionghoa dan organisasi Tionghoa dilarang, menutup sekolah Tionghoa, kewajiban bagi orang Tionghoa mengubah nama, larangan mengadakan perayaan hari raya Tionghoa dan tradisi Tionghoa di depan umum. Larangan-larangan tersebut terdapat pada Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967.

Pada tahun 1979, Pemerintah menyatakan bahwa Konghucu bukanlah agama, hanya aliran kepercayaan. Itulah sebabnya, dalam KTP, penganut  Konghucu didaftarkan sebagai penganut Buddha. Nama klenteng—sebagai tempat ibadah Konghucu—wajib diganti dengan tempat ibadah Tridharma.

Maka, pada era Soeharto nama Klenteng Hok Tik Bio diubah menjadi Vihara Buddha Prabha dengan alasan waktu itu hanya ada 5 agama, dan Konghucu bukanlah bagian dari kelima agama tersebut.

Peribadatan dilakukan secara tertutup. Klenteng dulu ditutup/dipagari agar tidak dilihat. Untuk mengakomodasi peraturan yang hanya memperbolehkan lima agama, maka klenteng dijadikan vihara. Maksudnya adalah menempatkan patung dan altar pemujaan Buddha. Kini, altar pemujaan Buddha berada di bagian belakang. Ya, bisa dibilang klenteng ini digunakan sebagai tempat bersembahyang bagi penganut Konghucu, Tao, dan Buddha. Tidak banyak penganut Tao di Yogyakarta.

Perubahan besar yang sangat menggembirakan, terutama bagi etnis Tionghoa adalah saat Presiden keempat, Gus Dur menekan Keputusan Presiden (Kepres) No.6/2000, sebagai pencabutan atas Inpres No.14/1967.

“Dengan ini penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat Cina dilaksanakan tanpa memerlukan izin khusus sebagaimana berlangsung selama ini,” demikian bunyi poin ketiga dalam Kepres No.6/2000.

Semenjak itu, masyarakat etnis Tionghoa bisa beribadah, berpolitik secara bebas. Mendapat pelayanan publik yang sama.

Kini Klenteng Fuk Ling Miau menjadi tempat ibadah penganut Konghucu dan aliran kepercayaan seperti Tao.

Pak Angling dan Pak Eko sangat senang dan menghargai kunjungan seperti ini. Bisa mengenalkan secara lebih luas tentang kebudayaan, kepercayaan Tionghoa. Ya, pelarangan yang diperlakukan oleh pemerintahan Soeharto berpengaruh besar. Apalagi, jika kita ingat, ada friksi besar terhadap etnis Tionghoa saat pergantian kekuasaan Soeharto ke Habibie. Dengan semakin banyak dialog, interaksi, maka kondisi damai akan selalu terpelihara.

Perkembangan Tionghoa di YK

Etnis Tionghoa telah sejak dahulu kala menjadi bagian sejarah bangsa ini. Menurut sejumlah sumber, masuknya etnis Tionghoa ke Nusantara telah ada sejak abad ke-3 SM.

Etnis Tionghoa banyak berdatangan ke Yogyakarta pasca-Perjanjian Giyanti pada 1755.  Saat itu, ibu kota baru muncul dan berkembang. Artinya, tempat baru yang tepat para pendatang yang sebagian besar berkecimpung di usaha perdagangan. Menurut catatan Raffles, jumlah orang Tionghoa di pulau Jawa saat itu berkisar 100.000 jiwa.

Warga etnis Tionghoa terkenal jujur. Itu sebabnya, mereka dipercaya oleh pemerintah keraton maupun pemerintah Hindia Belanda sebagai petugas pemungut pajak di pasar. Jabatan sebagai pemungut pajak disebut jabatan Tanda (marktmeester). Daerah tempat tinggal para pejabat Tanda tersebut disebut Ketandan. Itu sebabnya, permukiman orang Tionghoa berada di daerah dekat pasar.

Tokoh etnis Tionghoa yang berjasa besar bagi masyarakat Yogyakarta salah satunya adalah Dr. Yap. Kini kita mengenalnya sebagai nama rumah sakit mata.

Proses asimilasi pencampuran budaya Tionghoa yang paling kentara adalah soal kuliner, makanan. Bakmi, bakso, tahu, kecap, dsb. Hal itu membuat kuliner Indonesia lebih kaya.

Aku tak bisa membayangkan apa jadinya bila kita nggak kenal dengan penganan seperti bakso, mie, dunia terasa sendu—ya, itu karena bakso dan mi adalah makanan favoritku. 🙂

Keimanan dan Religiousitas

Aku meyakini konsep keimanan seperti yang dijelaskan oleh Kierkegaard. Keimanan adalah kebenaran objektif yang tidak dapat dipeluk manusia, pengetahuan manusia mengenai itu hanya bersifat mendekati. Iman adalah subjektivitas, yaitu masalah relasi manusia dengan dengan sesuatu yang melampaui dirinya. Maka, sekadar beragama atau mengetahui kebenaran religius tidak cukup. Penting bagi manusia untuk “melompat” dan meyakini (memiliki iman) sesuatu yang berada di luar jangkauan pemahamannya.

Berada di klenteng, kemudian menyaksikan sejumlah penganut Konghucu beribadah, membuatku menyadari pentingnya keimanan—apa pun bentuknya, yang harus dipeluk. Dalam hal ini tindakan sehari-hari, relasi sosial haruslah mencerminkan keimanan. Dengan begitu, kita menjadi manusia yang autentik. []

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *