Press "Enter" to skip to content

Laron dan Lampu

Hikayat ada seorang yang menjadi panutan. Patron. Majikan. Dihormati dan disegani. Kata-katanya penuh makna. Filsafat dan motivasi digabungkan. Ia dikelilingi oleh pengikut, bawahan, dan penggemar, dan juga orang yang ingin mendapat keuntungan darinya. Ah, kurasa memang semua hubungan bersandar pada efek menguntungkan, dalam skala dan impresi yang berbeda-beda. Memang banyak orang yang bergantung padanya. Kala itu, selain karena pekerjaan, orang bersedia mengerjakan perintahnya juga karena loyalitas dan penghormatan.

Dia terlalu berpuas diri dengan posisinya sebagai majikan, patron. Merasa akan lebih banyak orang yang membutuhkannya daripada dia. “Anda lakukan seperti yang aku minta, atau keluar. Aku tidak akan rugi. Di luar sana, ada banyak yang bisa dan akan menggantikan Anda.” Begitu kira-kira dia berkata pada bawahannya.

Cara seorang patron memperlakukan orang-orang yang melaksanakan perintahnya bisa jadi impresi kepribadian si patron. Jika malah semena-mena memperlakukan orang yang loyal kepadanya, bukankah itu hanya mengikis loyalitas yang kerap ia dengungkan pada para bawahannya? He wouldn’t take no for answer. Yang ia tahu adalah apa pun caranya, si bawahan harus melakukan perintahnya.

Dengan sikap demikian, tidak layak ia menuntut loyalitas. Ya, dalam konteks majikan-buruh, memang tidak akan pernah sejajar. Tapi perbedaan itu terlalu jauh.

Dengan uangnya, ia bagaikan lampu oleh para laron. Tapi hanya itu.

 

Lampu tak bisa melihat dirinya sendiri karena cahaya yang ia hasilkan. Si lampu hanya bisa melihat dirinya bila cahaya pada dirinya padam karena listrik dimatikan atau kumparannya putus.

Well, berada di lingkaran lampu memang akan menerangi. Seseorang akan merasa beruntung karena dilimpahi cahaya oleh si lampu. Namun, bila sesuatu terjadi pada si lampu, maka seseorang itu pun kehilangan cahaya. Atau, dalam konteks lain, si lampu terus ingin orang itu berada di sekitarnya, dalam jangka waktu lama, orang tersebut bisa terbakar karena berada terlalu dekat dan lama dengan si lampu. Beberapa orang, karena merasa sangat berutang budi, berniat terus mengabdi pada si lampu. Menjilat bahkan jika perlu agar dia selalu berada di lingkaran cahaya si lampu. Dia melakukan segala cara agar tak didepak. Laron-laron yang saling sikut.

Padahal, kita tahu apa yang terjadi pada laron setelah kehilangan sayapnya.

Jadi, jaga jarak dengan lampu. Lebih baik lagi, buat sumber cahaya sendiri. Be your own light, no matter how’s dim it is.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *