Press "Enter" to skip to content

Menyusuri Jagat Esai Bersama Gus Muh

inilah esai

Judul: Inilah Esai

Penulis: Muhidin M. Dahlan

Penerbit: I:BOEKOE, 2016

Jumlah halaman: 193 hlm

Saya ingat dulu, dalam salah satu bab pelajaran sejarah, dijelaskan tentang pembelaan Soewardi di depan pengadilan dengan judul “Seandainya Aku seorang Belanda”.

Lalu, beberapa tahun terakhir, marak muncul tulisan di media sosial yang bertajuk surat terbuka.

Ternyata, keduanya merupakan sebagian contoh esai. Apakah esai? Ada banyak definisi mengenainya. Cobalah saja via mesin pencari. Penjelasan menarik salah satunya datang dari Zen RS.

Esai itu di antara puisi di pojok paling kiri dan karya ilmiah di pojok paling kanan. (hlm 12)

Seorang esais menuangkan gagasannya dalam bentuk esai (ya iyalah, kalau dia seorang penyair, dia akan menuangkan gagasan dalam bentuk puisi). Dalam sejarah, banyak gerakan perubahan lahir dan membesar karena esai. Memang, esai sebagai bagian dari tradisi tulis. Respons atas perkembangan zaman bisa ditelusuri lewat esai-esai.

Para bapak dan pendiri bangsa ini, mereka adalah para esais ulung. Di Bawah Bendera Revolusi merupakan kumpulan esai politik Soekarno. Tulisan-tulisan milik Tjokroaminoto, Mohammad Hatta, dan Sjahrir juga sangat tajam.

Ternyata jagat esai sangat luas. Ada banyak ragam esai, pun topik yang dibicarakan. Dalam banyak bidang kehidupan, kita mengenal sejumlah nama yang tekun, piawai menuangkan gagasan dalam esai berkenaan suatu bidang tertentu.

Esais dalam tema keagamaan dan modernisasi ada Agus Salim, pada era sebelum kemerdekaan yang melakukan pembaharuan Islam. Kemudian pada era 80 hingga 90-an Esai Nurcholis Madjid, Gus Dur, Kuntowijoyo muncul di media massa dan memicu diskusi dan perdebatan. Di tahun 2000-an kita mengenal Ulil Absar Abdalla, dsb.

Di bidang isu perkotaan dan urbanisasi ada Marco Kusumawijaya dan Abidin Kusno. Topik musik ada Suka Harjana, Slamet A. Sjukur

Persoalan apa saja yang bisa dituliskan dalam esai? Bagaimana mendapatkan ide untuk menulis?

Esai selalu berhubungan dengan manusia dan masalah-masalahnya. Sedangkan manusia adalah sumber cerita yang tiada akan pernah putus dan kering. Banyak tema, cerita tentang manusia yang dapat diulas. Untuk mengambil sumber dari manusia jalan paling umum yang dilakukan adalah melalui percakapan. Selain itu, rimba internet merupakan tempat yang tepat untuk mencari sumber, asal tepat menyebutkan kata kunci biar tidak tersesat.

Dengan begitu, kita bisa mulai lebih peka dalam melihat, mendengar tentang sesama. Percakapan sederhana dengan kawan bisa menjadi sumur ide untuk menulis esai.

Menulis esai penuh dengan upaya kreatif. Salah satunya berkenaan dengan gaya bercerita/menulis. Dalam buku ini Gus Muh memberi contoh 16 gaya esai. Salah satunya esai itu seperti surat. Tulisan esai dibuat dengan memakai format surat. Itu lho, yang diawali dengan sapaan “Dengan Hormat.” Esai macam ini dikenal dengan tajuk “Surat Terbuka”.  Surat Terbuka kepada Jokowi yang ditulis oleh A.S. Laksana sempat menjadi viral.

Romo Mangun, pernah menulis esainya dalam bentuk percakapan. Percakapan-percakapan itu menjadi gambaran atas sketsa sosial dan kritik terhadap tatanan sosial. Seperti yang dilakukan Butet Kertaredjasa.  Dalam kolom esai Celathu Butet, yang ditulis berkala di Suara Merdeka, tokoh Mas Celathu jadi perpanjangan suara Butet.

Esai adalah pengantar memasuki buku.  Seperti esai pengantar yang ditulis oleh Romo Mangun, sebagai pengantar novel terjemahan “Segala Berantakan” karya Chinua Achebe.

Obituari juga merupakan esai. Berkaitan dengan ini, nama Rosihan Anwar tidak bisa lepas. Esai pengantar masuk kubur sebagai pengingat apa luput dari si pemilik arwah yang fisiknya kalis bersama tanah dan atau api.

Sinisme dan satire kerap mengundang lingkup reaksi yang luas antara tertawa, tertawa kesal, tersindir, hingga amarah. Gaya mengkritik dan menyindir ini mudah dikenali. Berpura-pura membela si tokoh dan lembaga tertentu, tapi sebetulnya sedang mengoloknya. Begitu pun sebaliknya.

Mata dan perhatian kita mudah tertuju pada sesuatu yang unik, lain. Judul yang tidak lazim mudah mencuri perhatian. Ya, mencari judul yang tepat dan menarik kerap menjadi batu sandungan bagi para penulis. Dalam buku ini, Gus Muh, memberi contoh 13 gaya dalam memilih judul. Judul-judul seperti apa yang kiranya mudah menarik perhatian pembaca. Beberapa contoh tersebut adalah:

Yang baru yang berkelahi. Sebuah esai yang membawa misi mengubah sesuatu, menggugat sesuatu. Sebuah kebaruan yang kerap ditanggapi secara reaksioner, keras oleh kalangan konservatif, pengampu status quo. Tak sekadar memunculkan polemik, namun juga gerakan, dan bisa diganjar penjara. Esai berjudul “Sama Rasa Sama Rata” ditulis oleh Mas Marco Kartodikromo di koran Sinar Djawa yang terbitan 16 April 1918, kembali mengantarkan Marco ke penjara setelah sebelumnya baru saja keluar karena persoalan delik pers. Terlihat jelas apa yang diutarakan Marco dalam esainya. Hal itu tentu memberi pengaruh buruk pada “stabilitas” yang dijaga pemerintah kolonial. Ya, pada zaman itu, orang pribumi adalah warga kelas tiga setelah orang Belanda, dan orang peranakan.

Cara lain menyiasati judul adalah cukup menuliskan satu kata sebagai judul. Judul yang hemat ini kerap diterapkan oleh Goenawan Muhamad dalam Catatan Pinggir. Tengok saja judul seperti “Siddhartha”, “Tahanan”, “Horatio”, Skandal, dan lain-lain.

Penggabungan: mendekatkan yang jauh, mengakrabkan yang dekat. Well, ini bukan tagline iklan layanan operator seluler. Lihat judul-judul berikut ini. Islam, Negara Sekuler, dan Demokrasi oleh Denny J.A, Agama, Harkat Manusia dan Modernisme oleh Mudji Sutrisno

Contoh lain adalah judul yang bertanya. Biasanya didahului oleh satu kata Latin, quo vadis. Dalam buku ini Gus Muh mencatat banyak sekali judul esai yang menggunakan kata tersebut.

Sebuah esai kerap kali adalah ungkapan kegelisahan seorang individu terhadap suatu permasalahan. Untuk mengajak pembaca dan agar si pembaca juga ikut merasakan kegelisahan itu, maka digunakanlah pronomina “kita”.

Bila judul diibaratkan halaman depan rumah, maka kita akan memasuki pintu rumah yang berisi ruang tamu. Penataan ruang tamu yang apik kerap mengundang decak kagum dan rasa nyaman tamu. Halah, jadi melantur, ini bukan buku tentang interior. Nah, dalam menulis, bagaimana mengikat pembaca agar tertarik dan selesai membaca esai kita, bukan melemparnya setelah membaca paragraf awal. Tentu dengan pembukaan yang menarik. Ada delapan gaya membuka esai:

  1. Mengetuk dengan kutipan
  2. Menampilkan peristiwa atau kronik
  3. Bercerita
  4. Mengolah biodata dasar seperti tanggal dan tempat lahir
  5. Mengajukan sejumlah pertanyaan
  6. Menyapa pembaca
  7. Menjelaskan metode, teori, istilah kunci
  8. Paparan umum dan serangkaian pernyataan

Setelah berhasil menarik pembaca untuk membaca bagian awal esai, hal penting selanjutnya adalah deskripsi. Beberapa siasat menulis deskripsi yang kuat dan juga menarik diikuti antara lain: memberi kutipan yang relevan dengan gagasan yang hendak disampaikan. Paragraf demi paragraf telah ditulis. Namun, tanpa frase atau kata penghubung, paragraf-paragraf tadi tidak membentuk kesatuan utuh. Frase penghubung untuk menggabungkan juga memperlancar narasi cerita.

Dasar setiap menulis adalah deskripsi. Dalam deskripsi bukan saja terdapat seni mengatakan, melainkan lebih sublim dari itu adalah seni menggambarkan. Deskripsi adalah cara menggambarkan apa yang dipikirkan penulis untuk dibaca-pahami pembaca (Gunawan Maryanto, 2015)

Kerap kita bertanya, “Jadi, ini mau dibawa ke mana?” “Bagaimana akhirnya?” dalam banyak hal. Tak cuma soal hubungan, tapi juga saat membaca/menulis esai. Harus ada “gong” di belakang yang menegaskan keseluruhan cerita/esai. Paragraf penutup tak kalah penting dengan paragraf pembuka. Ada esai yang bagian akhirnya merupakan penegasan peran utama. Juga ada esai memberi/menawarkan jalan keluar atas suatu polemik. Pengandaian juga bisa digunakan untuk menutup esai. Bertanya dan berseru juga bisa diterapkan.

Setelah membaca buku ini, ada banyak tema, lahan yang dapat digarap oleh esai. Esais pemula tidak perlu minder. Penulis esai mempertajam radar penangkapan peristiwa, mencari posisi penangkapan peristiwa, mencari posisi sudut pandang, memperkaya kosakata, melicinkan bahasa, dan jadilah esai. Seorang penulis esai adalah seseorang yang disiplin dengan dirinya sendiri.

Banyak jalan menuju Roma, banyak cara, tema untuk menulis esai. Menulis esai bukan persoalan jalan agar nama kita dikenal, muncul di media, misalnya. Namun, bentuk ekspresi terhadap dinamika zaman dan kehidupan.

Buku ini tidak sekadar buku panduan tapi juga pengenalan pada sederet nama dan sejumlah esai yang mewarnai jagat peresaian Indonesia. Membaca buku ini mengenal lebih banyak tokoh dengan beragam esai. Komposisi yang tepat dan menarik. Buku ini layak dimiliki baik oleh pembaca yang bercita-cita menjadi esais maupun yang ingin baca dan ingin tahu soal jagat esai.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *