Press "Enter" to skip to content

[Resensi] Panggilan Rasul

Judul: Panggilan Rasul | Pengarang: Hamsad Rangkuti | Penerbit: KPG

Cerpen-cerpen realis penuh detail karya Hamsad menghadirkan nuansa nostalgia serta permenungan tentang hubungan manusia, gerak perubahan zaman.

Ada empat belas cerpen yang terangkum dalam kumpulan cerpen Panggilan Rasul ini.

Cerpen favoritku adalah “Ayahku Seorang Guru Mengaji”. Cerpen ini tentang Pak Achmad, seorang guru mengaji. Selepas maghrib, anak-anak datang kepadanya untuk mengaji al-Qur’an. Namun, setelah listrik masuk kampung, anak-anak semakin sedikit yang mengaji hingga akhirnya tak seorang pun mereka yang datang. Mereka lebih memilih menonton TV. Kisah Pak Achmad dikisahkan dari sudut pandang Hayim, anaknya. Istri Pak Achmad kemudian mengusulkan sang suami untuk membacakan doa dan surat yasin kepada para peziarah. Seperti yang dilakukan Pak Sanusi. Tuhan memberi rezeki dengan cara tak terduga. Dan, Pak Achamd menemukan jalannya sebagai guru mengaji kembali.

Kampung nenekku di Jogja baru pada pertengahan tahun 1990-an dapat menikmati listrik sepenuhnya. Mengobrol bersama orang tuaku dan sanak saudara di kampung di bawah temaram lampu petromaks masih aku ingat jelas. Bahkan, di rumahku dulu bila lampu mati dalam jangka waktu agak lama, bapakku segera menyalakan lampu petromaks, aku kerap membantu memompa petromaks.

Bayangan itulah yang muncul saat aku membaca cerpen ayahku seorang guru mengaji. Listrik dan kemudian disambung oleh televisi membawa perubahan yang amat cepat di lingkungan masyarakat. Teringat berapa senangnya saat bisa menonton film kartun dan aksi Ksatria Baja Hitam di RCTI, setelah sekian lama tak punya pilihan selain menonton TVRI.

Lalu dalam cerpen “Karjan dan Kambingnya” serta “Si Lugu dan Si Malin Kundang”, bagaimana sejak dulu manusia terpaku pada penampilan luar. Menilai seseorang dari penampilannya. Bisa jadi, sejak dulu perbedaan kota dan desa begitu jauh. Melihat orang berpakaian jarit, dsb sangat mudah menebaknya sebagai orang kampung. Aku ingat menonton film-film Indonesia zaman dulu, atau setidaknya sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Digambarkan bahwa orang dari desa akan membawa oleh-oleh berupa hasil kebun yang dimilikinya. Orang dengan pakaian dan bawaan yang demikian tidak diperkenankan masuk ke lingkungan perumahan gendongan.

Bagaimana sebuah acara sunat/khitan bisa berubah menjadi penuh horor dan ketegangan. Pada tahun 70-an, mantri atau dokter tak banyak. Sebagian besar ditangani oleh dukun.  Operasi khitan bisa dibilang penanganan ringan. Pada tahun 70, tidak demikian.  Ketegangan itulah yang dikisahkan dalam cerpen “Panggilan Rasul”. Lasuddin, anak ketiga seorang tuan tanah hendak disunat rasul. Pihak keluarga serta masyarakat sekampung cemas dan khawatir bila tragedi yang menimpa dua kakak Lasuddin sebelumnya terulang. Bila iya, maka garis keturunan si tuan tanah habis.

Bagi anak muda yang lahir di tahun 2000-an, situasi yang dialami oleh tokoh dalam cerpen ini mungkin tak pernah dialami oleh mereka. Ada baiknya mereka membaca cerpen-cerpen karya Hamsad Rangkuti. Selain menarik dari segi cerita, bisa memberi gambaran bagaimana globalisasi perubahan masyarakat yang terjadi selama ini. Membaca cerpen ini melatih untuk menilai situasi sesuai konteksnya. Menghindari anakronisme.

Selamat membaca kumpulan cerpen ini.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *