Press "Enter" to skip to content

Rencana ke Candi Sambisari yang Berakhir Antiklimaks

Seorang kawan pernah menyindirku, “Kamu berapa tahun di Jogja belum pernah ke Candi Sambisari, Mbak?”

Ya, aku memang jarang bepergian, Sabtu biasanya kupakai untuk bermalasan, bangun lebih siang ketimbang biasanya (atau tidur lagi setelah shalat Subuh) lalu beres-beres kamar kos. Sebuah kegiatan yang sudah mirip dengan kutukan yang dijalani Sisifus—kamar yang rapi dan bersih pada akhir pekan itu kerap berantakan saat hari kerja, kertas-kertas berserakan dan buku-buku menumpuk tak menentu, lalu pada akhir pekan selanjutnya aku merapikannya kembali dan berserakan lagi pada hari selanjutnya.

Namun, aktivitasku pada Sabtu (7/5) agak berbeda. Malam sebelumnya, aku bertekad untuk meluangkan waktu pergi jalan-jalan ke Candi pada Sabtu. Lagi pula, Kamis dan Jum’at adalah libur Kenaikan Isa Almasih dan Isra Mi’raj Nabi Muhammad, namun selama dua hari tersebut aku tak ke mana-mana.

Jadilah aku pada Sabtu dini hari bangun pada pukul empat pagi. Selagi menunggu adzan Subuh, menyiapkan perlengkapan yang akan kubawa jalan-jalan ke Candi. Memastikan baterai ponsel penuh, sebotol air mineral, buku bacaan, buku tulis, pensil, pulpen, body lotion, dan tak lupa seperangkat power bank.

Setelah langit agak terang, mungkin hampir pukul enam pagi, aku keluar kos, berangkat menuju Candi Sambisari. Saat lewat jembatan layang Janti, aku melihat mentari masih rendah, langit abu-abu bersemu warna jingga.

Meskipun masih pagi, tapi Jalan raya Yogyakarta-Solo tetap saja ramai. Bus-bus melaju kencang. Kata temanku, arah ke Candi Sambisari, patokannya dari patung burung AAU ke arah kiri. Tapi, aku terlambat menyadari, keblabasan. Terpaksalah aku mencari jalan untuk putar balik, yang ternyata cukup jauh. Aku yang terlambat mengambil jalur  kanan, tak bisa menyeberang karena bus-truk tak henti-hentinya melaju. Aku tak punya pilihan lain selain mencari belokan putar balik yang selanjutnya. Dan berhasil. Aku menaiki motor kembali ke arah Jogja. Nah, persoalan selanjutnya adalah mencari belokan untuk putar arah, yang ternyata adalah pertigaan Sambilegi—Ringroad Utara. Dan lagi-lagi karena telat belok, aku harus mencari belokan putar balik di Ringroad Utara, cukup jauh, seingatku melewati gedung Gema Amal Insani (GAI) bekas kantor cabang HMI Yogyakarta yang kini jadi kampus sebuah akademi pariwisata dan sebuah TK. Dulu semasa masih aktif jadi aktivis HMI sering ada di sana. Jauh banget kan aku harus berputar?!

Di sisi kiri Jalan Solo-Yogyakarta sedang ada perbaikan selokan, aku harus berhati-hati. Akhirnya aku menemukan plang bertuliskan Candi Sambisari dalam keadaan miring, bersandar di tembok agak tertutupi oleh tiang listrik. Maka aku berbelok ke gang tersebut. Jalanan lurus, melewati deretan rumah kemudian sawah. Dari rumah-rumah yang kulewati, aku menyadari aku pernah lewat jalan tersebut. Sebenarnya travel yang pernah menjemputku juga menjemput penumpang di salah satu rumah tersebut. Aku agak ragu. Tak ada penanda apa pun, tak ada plang nama jalan. Aku pun berhenti di pinggir jalan. Mengaktifkan Google Maps. Google Maps menunjukkan aku berada di jalan yang berbeda dengan jalan Candi Sambisari berada. Mungkin ada perempatan aku bisa belok. Ujung jalan itu adalah Selokan Mataram. Aku lantas belok kanan, lalu berbelok kiri. Oke, beberapa plang toko menunjukkan alamat Jalan Candi Sambisari, nah berarti aku berada di jalan yang tepat. Aku mengendarai motor, akhirnya aku melihat gapura bertuliskan Candi Sambisari. Hore, ketemu!

 Teringat tadi aku masih mengaktifkan Google Maps, aku berhenti sebentar di pinggir kiri, mengambil ponsel, nah pada saat itulah aku menyadari tak membawa dompet! Dompet tertinggal. Damn it! Aku tak membawa sepeser pun uang di saku, sementara candi tinggal beberapa meter. Matahari masih agak rendah, pengunjung masih sedikit, pastinya akan asyik nongkrong di situ. Tapi, untuk bayar parkir pun aku tak ada uang. Akhirnya, aku hanya mengitari candi dan pulang ke kos.

Sampai di kos, aku lihat jam, pukul 07.05 WIB. Jadi, perjalanan naik motor pergi pulang Jalan Tegalturi-Jalan Solo KM 10 yang berakhir antiklimaks tadi cuma satu jam. Aku berusaha berbesar hati. Tenang. Ini hari Sabtu, masih punya kesempatan pada hari Minggu. Untuk membalas dendam atas kejadian hari ini, aku memutuskan untuk  trip, tak cuma ke Sambisari. Maka, aku WA Mas Dion, sebagai warga Prambanan yang sudah bosan dengan candi, tanya candi mana saja yang bisa kukunjungi. Dia lantas memberi petunjuk candi mana saja yang bisa kudatangi. Dengan rasa masygul, gondok, dan ngantuk karena kena angin pagi, aku memutuskan untuk tidur. [ ]

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *