Press "Enter" to skip to content

[Resensi] Somewhere Only We Know

Judul: Somewhere Only We Know | Pengarang: Alexander Thian | Gagas Media | 2015

[nggak ada foto karena nggak sempat foto saat mengembalikan buku ke perpus]

Dua kakak beradik. Ririn dan Kenzo. Mereka sama sekali bukan blasteran. Ada cerita menarik di balik nama kedua bersaudara itu. Ririn, nama yang sangat Jawa, Kenzo, nama yang amat Jepang.

Ririn, perempuan yang cenderung tomboy, tipikal kakak yang kerap “di-bully” adiknya. Meskipun begitu, hubungan dinamis, cair, dan erat.

Ririn pergi ke Nusa Lembongan, Bali dengan alasan blogger misterius favoritnya tengah berlibur di sana. Kenapa misterius? Karena tidak ada yang tahu wajah dan nama aslinya. Silver Shadow, well namanya bagiku seperti anggota persaudaraan rahasia dan kuno.

Kapal yang ditumpangi Ririn menyeberangi selat di tengah cuaca agak buruk, ombak besar menghantam kapal.

Jalan tanpa pegangan di tengah kapal yang mendadak dihajar gelombang raksasa. Menggelindinglah gue sepanjang kapal, dan menabrak seseorang. Hal pertama yang gue sadari adalah posisi gue di atas orang itu. Mata kami saling mendelik. Gue mendelik marah, dia mendelik kaget. Kedua tangannya tertangkup di dada gue yang tumbuh seadanya. Dengan segera kapal itu dipenuhi dengan jeritan gue.

“YOU PERVERRRTTT! BERENGSEKKK!!!”

Bisa dibilang dalam perjalanan kapal menuju Bali, Ririn mengalami “musibah” demi “musibah” yang memalukan.

Lelaki berengsek—tapi bersuara bak Cumberbatch, bermata teduh ala Gosling—karena telah menyentuh Ririn ternyata adalah Silver Shadow. Tentu saja Ririn kaget tingkat dewa. Dalam bayangannya, lelaki yang lihai menciptakan dongeng itu berpenampilan nerd, bukan seperti model.

Arik, begitu laki-laki itu dipanggil. Ririn yang sebelumnya hanya bisa membaca dongeng-dongeng si Silver Shadow lewat blog, kini bisa mendengarkannya langsung, bahkan Arik, sengaja menceritakan dongeng khusus untuk Ririn.

Dalam liburan ke Bali kali ini Ririn menemukan kebahagiaan. Terlalu susah diungkapkan kata-kata sampai kadang ia tak percaya dengan yang dialaminya sendiri.

Singkat kata, Arik dan Ririn dekat, menghabiskan waktu liburan bersama. Pascaliburan, setelah mereka kembali ke aktivitas masing-masing, apakah perasaan Arik dan Ririn itu sekadar bawaan liburan ataukah memang lebih dalam?

Kenzo punya cerita sendiri. He escaped Indonesia because his heart was broken. (terkadang aku iri pada orang yang patah hati lalu pindah ke luar negeri, pun sebaliknya) Meski telah berada sekian ratus mil dari Indonesia, di Hanoi, Viet Nam, Kenzo tak bisa lari dan bayang-bayang mantan.

Tiga bulan berikutnya, bayangan Bayu menemani gue ke mana-mana. Di saat makan siang, gue melihatnya duduk di depan gue, lengkap dengan senyum miring, rahang kukuh, wajah tirus dan tulang pipi yang tajam. Terkadang, tawanya menyelinap masuk ke otak, lalu tinggal beberapa hari di situ. Tak jarang, wangi parfumnya menemani gue berkeliling lorong-lorong sempit jalanan kota Hanoi.

Kenangan akan Bayu yang menemani awal-awal Kenzo di Hanoi, hingga akhirnya ia terbiasa dengan rasa sakit karena kenangan.

Time doesn’t heal the pain. You just get used to it. You befriend it. It becomes a part of you.

Saat dia nongkrong di café Paris Deli, tempat langganan Kenzo setahun ini, sebuah chat di mIRC laptopnya muncul (masih dipakai ya mIRC? Atau beberapa golongan memang sengaja menggunakannya?) menyapanya. Sebuah akun bernama MonsieurH. Kenzo yang awalnya tak terlalu mengacuhkannya, semakin penasaran karena si MonsieurH juga berada di kafe tersebut, tapi Kenzo tak mampu menebak. Kenzo, si hopeless romantic, akhirnya menemukan hasrat untuk berpartisipasi lagi dalam hidup.

Tak banyak yang Kenzo tahu tentang MonsieurH a.k.a Hava, selain suara, kebangsaan. Ya, percakapan via telepon, email yang mereka lakukan. Ya, terkesan agak tidak adil. Karena Hava tahu bagaimana rupa Kenzo, tapi tidak dengan Kenzo. Setiap Kenzo meminta pertemuan, Hava selalu menolak. Akan tiba waktunya. One small talk led to another small talk, and suddenly Kenzo was trapped in a conversation about love.

Dan ternyata, di hari-hari sebelumnya Kenzo sebenarnya pernah bertemu dengan Hava. Dia tidak menyadarinya. Ternyata mereka jalan bersama—maksudku berada di satu tempat. Itu kan semacam berhubungan dengan stalker. Nah, hal yang menurutku jika terjadi di dunia nyata akan tampak creepy, tapi di sini kok jadi menarik ya. Aku terbawa pada rasa jengkel, penasaran, rindu, sakit hati Kenzo terhadap kemisteriusan Hava.

Keklisean yang terjadi bisa diubah menjadi hal yang menarik. Seperti ternyata si A kenal si H lewat si B yang dikenal C, dsb.

Aku sama sekali tidak menyangka ada keterkaitan. Semua terbungkus rapi.

Alexander Thian tak sekadar bercerita tentang dua orang yang berbeda, tapi juga memberikan sifat, sentuhan, sensasi berbeda. Tone narasi yang digunakan saat menulis tentang Ririn sangat berbeda dengan Kenzo. Ririn konyol, kocak, Kenzo sangat melankolis. Dia berusaha sok cool dengan “membully” sang kakak menyembunyikan luka hati. Kerap kali, saat seseorang menasihati, mengingatkan tentang sesuatu, sebenarnya si orang tersebut tengah mengingatkan dirinya sendiri.

“Mungkin. Mungkin cinta itu seperti mi goreng. Nggak bagus buat kesehatan, tapi kamu terus makan karena enak. You just can’t help it.” –Somewhere Only We Know, hlm. 109

Membaca novel ini juga serupa. Terus dibaca, I just can’t help it.

Romantisme yang dialami oleh kedua kakak beradik ini menurutku enak diikuti. Meski aku lebih suka bagian Kenzo ketimbang Ririn. 🙂

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *