Press "Enter" to skip to content

Sehari Jelajah Candi

Untuk menebus kegagalan ke Candi Sambisari, well sebenarnya aku sudah ke sana tapi cuma dari luar, maka pada hari Minggu (8/5) ini aku memutuskan untuk trip ke candi-candi. Aku berangkat ke Candi Sambisari lebih siang ketimbang sebelumnya. Aku keluar kos hampir pukul setengah tujuh. Sebelum berangkat, aku kembali menengok tas ranselku, memastikan tak ada yang tertinggal.

Sampai di Candi Sambisari, aku disambut oleh lantunan lagu “Sambalado” dari sebuah tape. Beberapa perempuan paruh baya berpakaian olahraga tampak bersiap-siap. Ah, rupanya mereka akan memulai senam. Satpam yang seharusnya menjaga loket sedang tidak di tempat jadi aku tidak bayar tiket masuk. Tapi, demi Tuhan, dari semua banyak lagu, kenapa lagu itu? Aku sedang jalan-jalan di Candi Sambisari atau sedang di lantai satu kantorku, sih. Beberapa kelompok orang tampak berada di sekitar candi. Beberapa adalah keluarga, yang lainnya gerombolan anak muda, juga anak-anak. Beberapa orang lainnya, berlari-lari kecil mengelilingi jalan setapak candi. Mereka berolahraga pagi.

Candi Sambisari

Berdasarkan paman Google, Candi Sambisari yang merupakan candi Hindu beraliran Syiwa ini diperkirakan dibangun pada awal abad ke-9 oleh Rakai Garung, seorang Raja Mataram Hindu dari Wangsa Syailendra.

Aku mengelilingi candi. Pada sisi luar candi utama terdapat relung-relung yang ditempati oleh beberapa arca, seperti Durga di sebelah utara, arca Ganesha di sisi timur dan arca Syiwa di sisi sebelah selatan. Sayang, arca Mahakala dan Nandiswara yang berada di pintu masuk Candi Sambisari hilang dicuri pada tahun 1971.

Terbayangkah bangunan itu, batuan-batuan itu telah berusia sekian abad. Jika benda mati seperti candi, arca bisa menyimpan kenangan, kejadian apa, kehidupan apa yang mereka pernah saksikan. Aku kerap berkhayal punya kekuatan mengetahui cerita masa lalu yang tersimpan dalam benda mati.

Jejak masa lalu.

Rencana untuk makan soto batok gak terlaksana karena aku melihat warungnya sangat ramai. Berada di sana dengan posisiku yang cuma sendirian tak begitu menguntungkan. Maka, aku teruskan perjalanan. Akhirnya cuma sarapan onigiri yang kubeli di Indomaret.

Saat di Jalan Yogyakarta-Solo aku melihat tulisan Candi Sari. Aku pun memutuskan ke sana. Letaknya tidak jauh dari jalan raya Yogyakarta-Solo. Pintu pagar hanya setengah terbuka dan seorang penjaga di sana.

Aku bertanya, “Parkir mana?”

“Di sini, Mbak,” kata si penjaga.

Aku parkir di dekat pos penjagaan dan membayar tiket senilai Rp2000,00. Candi Sari sebuah bangunan tunggal, lebih tinggi ketimbang Candi Sambisari. Bentuknya pun masih bertata bagus. Tak ada pengunjung lain di sana. Dari petunjuk yang kubaca, candi ini adalah candi Buddha. Di bagian atas ada sebuah stupa, namun dalam keadaan tidak utuh. Anak tangga candi itu lebih tinggi ketimbang Candi Sambisari dan tidak memiliki pegangan tangga. Namun, seperti di Candi Sambisari, di atas pintu terdapat ukiran makara. Candi itu terdiri dari sebuah ruang utama di tengah dengan ruangan lain di samping kanan dan kiri ruangan sejajar. Ruangan di samping kiri dan kanan itu cukup lapang, lembap, agak gelap. Cuma punya dua pintu di kedua sisi dinding terdapat ceruk.

Candi Sari

Aku lantas keluar mengelilingi candi. Pada sisi luar tubuh candi, terpahat arca-arca dewa Boddhisatva dan Tara. Arca-arca tersebut berjumlah 36 buah (8 di sisi timur, 8 di utara, 8 di selatan, dan 12 di barat). Pada umumnya arca ini digambarkan dengan sikap lemah gemulai (sikap Tribangga) dan memegang teratai merah dan biru. Dari ukiran itu, bentuk tubuh perempuan terlihat aduhai.

relief dewi Tara

Melihat relief itu, aku terpikir tentang beberapa kasus yang menyalahkan tubuh perempuan. Laki-laki yang konon ingin menegakkan syiar Islam memaksa perempuan berpakaian lebih tertutup karena bisa mengundang syahwat. Melihat relief macam itu apa mereka akan menghancurkannya karena dianggap mengundang syahwat? Kurasa, memang budaya Arab-Islam yang banyak mengubah. Pakaian perempuan Jawa kan kemben. Aku teringat dalam novel Pram, Arus Balik, bagaimana perubahan sosial sangat terasa pada abad keenambelas, redupnya Majapahit dan makin kuatnya kerajaan Demak. Orang-orang yang menyebarkan Islam tak melulu orang baik. Ada juga yang memakai kedok agama untuk kepentingan pribadi yang buruk. Terdengar familier? Dalam Arus Balik, ada tokoh bernama Idayu. Seingatku, ia yang terbiasa mengenakan kemban harus berganti pakaian yang lebih menutupi tubuhnya oleh seorang pemuka agama yang sedang naik daun saat itu.

Aku teringat salah satu kawanku. Dia bilang bersyukur bahwa buku perkembangan balita yang bergambar ibu menyusui anaknya kini tidak lagi diproduksi. Karena itu membuka aurat, mengundang syahwat. Apa?! Dalam kehidupan nyata, mengapa seorang ibu yang sedang menyusui anaknya harus merasa malu melakukan hal yang wajar dan sepantasnya dilakukan oleh ibu. Orang-orang itu kerap kagetan pada tubuh perempuan. Malah menyuruh perempuan yang menutup aurat, alih-alih laki-laki itu yang seharusnya menutup pikiran kotornya. Secetek itukah pengendalian diri laki-laki?

Di dekat pos penjagaan ada sebuah bangku di bawah pohon jambu yang rindang. Sangat tenang, menyenangkan bisa membaca di sana. Aku membaca beberapa halaman dari buku yang kubawa, “What I Talk About When I Talk About Running”.

Aku sempat bertanya tentang bangunan Candi Sari ini kepada si penjaga. Di pos itu ada segepok karcis, sebuah buku berukuran folio, dan sebuah laptop. Candi Sari ini adalah tempat tinggal para biksu. Mereka beribadah di Candi Kalasan. Aku membayangkan para biksu itu tidur di kamar-kamar tersebut. Kira-kira mereka tidur beralaskan apa? Tikar anyaman? Pasti ceruk-ceruk yang kulihat di dalam tadi tempat penerangan. Aku berusaha membayangkan tempat itu belasan abad silam. Kehidupan macam apa yang dialami? Siapa saja biksu-biksu itu? Pernah baca berita yang menyebutkan jumlah orang? Misal, 20 orang meninggal saat kerusuhan. Siapa saja mereka? Dua puluh orang, dua puluh nama berbeda yang memiliki cerita hidup masing-masing. Namun, dalam berita/cerita mereka berubah menjadi sebuah simbol dalam angka.

Sekitar pukul 9.30 pagi aku meninggalkan Candi Sari menuju Prambanan. Aku sempat berbelok ke arah Candi Prambanan, maksudku mencari parkiran yang dekat dengan candi. Setidaknya di kawasan tempat parkir waktu dulu aku ikut Jogja Heritage Walk. Nyatanya tidak ada tempat parkir lain selain yang berada di dekat jalan raya itu. Melihat tarif parkir senilai Rp3000 dan jarak dari parkir ke Candi Prambanan maupun Candi Sewu yang agak jauh, ditambah nggak tahu berapa tiket ke Candi Prambanan, akhirnya aku memutuskan melewatkan kedua candi tersebut. Eh, parkir di Candi Sambisari Rp2.000,00. Lagi pula, aku sudah pernah ke sana. Memang sih, keputusanku ini membuat cacat rute mengunjungi candi. Tapi, tak apalah.

Aku lantas pergi ke Candi Plaosan. Aku lewat jalan berbeda dari yang pernah kulalui sewaktu berjalan kaki dalam acara Jogja Heritage Walk tahun lalu bersama Mas Dion, Mbak Rina, Ferdi,  dan Ve. Aku lantas parkir motor, lalu berjalan masuk ke areal Candi Plaosan. Saat itu petugas loket juga sedang sibuk dengan pengunjung lain sehingga aku langsung menyelinap masuk tanpa bayar. Di seputaran Candi Plaosan ada beberapa candi-candi kecil (candi perwara) yang masih utuh, berhasil dibangun ulang, sebagian lagi lainnya masih berupa tumpukan batu, belum/tidak bisa disusun. Tumpukan batu itu ibarat kepingan puzzle kuno yang menunggu untuk disusun. Arkeolog ibarat seseorang yang menyusun puzzle.

Kira-kira berapa lama lagi batu-batu candi itu bisa bertahan terhadap perubahan cuaca, iklim tanpa perawatan yang memadai? Mereka hanya diletakkan di sekitar candi. Menunggu waktu agar dapat disusun. Terkena panas dan hujan. Belum lagi tangan jahil manusia. Aku pernah mendengar cerita seorang kenalan yang aktif di komunitas Bol Brutu, kumpulan orang-orang yang memiliki minat pada peninggalan sejarah. Banyak sekali kondisi arca, benda-benda dalam kondisi menyedihkan. Ada yang diletakkan begitu saja, tidak terawat, bahkan dikencingi. Orang-orang itu tidak tahu nilai sejarah dari batu-arca itu, mungkin juga mereka tidak peduli. Arca-arca juga kerap dicuri. Seorang kawan ini, berkomentar, “Memang ini ironis. Tapi aku lebih rela kalau arca ini dibawa keluar negeri ke museum atau kolektor. Setidaknya, mereka lebih tahu cara merawat arca-arca ini.”

Seperti biasa, banyak orang saling berselfie. Ada pasangan muda sedang pacaran. Aku memotret beberapa yang bisa kupotret dan menarik untuk kupotret. Aku tak begitu mahir selfie. Ya, aku tak terbiasa. Mungkin jika aku bersama teman kami bisa saling bergantian memotret.

Di dalam candi, aku melihat dua arca berukuran manusia sebenarnya. Bergaya busana ala zaman Hindu Buddha, bertelanjang dada, kalung melingkar. Ada dua buah candi yang identik di bagian selatan dan utara. Di candi sebelah utara salah satu arca sudah terpenggal kepalanya. Aku nggak tahu apakah pencurian atau memang kerusakan alam.

Duduk di luar, bersandar di dinding candi, terlindung dari panas mentari namun terpapar angin sangat menyejukkan. Waktu tepat untuk membaca. Selain melihat-lihat bangunan candi, memotret, lalu setelah itu melamun, selanjutnya baca buku. Membaca buku tentang pengalaman Haruki Murakami saat berlari, mengingatkanku pada pengalamanku mengikuti Jogja Heritage Walk. Setelah setengah buku itu kubaca, aku memutuskan meninggalkan Candi Plaosan.

Setelah dari Candi Plaosan, aku kembali ke arah Jogja, mampir sebentar ke Candi Kalasan. Matahari kian tegak di atas kepala, terik makin menjadi, aku memutuskan pulang. Aku tak pernah lewat jalan pintas ke Berbah, maka kali itu aku lewat jalan itu. Jalan untuk menghindari kemacetan Jalan Solo-Jogja. Sesampainya di sebuah pertigaan, aku melihat petunjuk jalan bertuliskan lava bantal ___ km dan Candi Abang ___ km. Segera saja aku ikuti berbelok mengikuti petunjuk jalan itu. Rencana awal untuk pulang langsung hilang. Aku tak tahu apa itu lava bantal sehingga hanya melewatinya. Aku tak tahu apa aku berada di jalan yang benar, karena tak ada petunjuk selanjutnya tentang Candi Abang. Aku hanya mengikuti jalan besar.

Aku lapar. Ingin cari makan. Setelah beberapa kali ragu, akhirnya mampir ke sebuah warung bakso dan mi ayam yang berada di pinggir sawah. Tempat makan yang asyik, sejuk. Apalagi saat itu menjelang tengah hari. Sayang, rasa mi ayamnya di bawah standar. Ya, setidaknya, kedatanganku untuk makan di sana sedikit membantu jualan si bapak penjual. Aku sempat browsing tentang lava bantal. Itu akibat proses geologis jutaan lalu. Konon berhubungan dengan pembentukan Pulau Jawa. Hmm, okelah nanti mampir ke sana.

Saat membayar mi ayam, aku sempat tanya pada ibu penjual arah ke Candi Abang.

 Ya, ke sana terus, dari sini kelihatan kok, Mbak.”

Seorang ibu lain bertanya, “Siapa yang mau ke sana?”

Si ibu penjual menjawab, “Ini si mbak mau ke sana,” sambil menoleh ke arahku.

“Ngapain ke sana jam segini. Ke candi abang itu enaknya sore,” komentar si ibu tadi, yang kemudian melanjutkannya dengan cerita saat dia ke sana.

Ya, mau gimana lagi. Aku nyampainya di sini jam segini, kataku dalam hati.

Aku lalu berjalan lagi. Sepanjang jalan aku bertanya-tanya di mana sih candinya, kalau dari warung mi ayam tadi saja kelihatan, kenapa yang ada cuma sawah? Sampai di sebuah perempatan aku sempat bingung, ini ke arah mana? Aku memutuskan ke kiri, tapi beberapa meter kemudian berbalik arah. Setelah sampai di perempatan itu aku ambil kiri. Jadi, dari jalur awal tadi, seharusnya aku lurus. Beberapa lama kemudian aku menemukan petunjuk jalan bertuliskan Candi Abang. Jalanan desa yang menanjak. Motor lantas kuparkir. Aku harus berjalan di jalan setapak berbatu di mana sisi kiri kanannya adalah pepohonan. Mengingatku pada jalan setapak menuju rumah nenek dulu. Tak ada orang lain yang bersamaku kala itu. Seorang perempuan pedagang yang berjualan di dekat jalan masuk setapak itu, bertanya kenapa aku sendiri, kenapa nggak bawa teman? Aku cuma tersenyum.

setapak

Aku suka berjalan di setapak itu. Pepohonan rimbun yang ada di pinggir jalan. Lalu kemudian tampak tanah lapang. Cuaca sempat mendung untuk beberapa saat. Kemudian kembali terik. Aku kini mengerti kenapa si mbak tadi kaget aku ke Candi Abang siang begini. Panas ngentang-ngentang, kata orang Jawa. Aku menemukan tanah lapang lalu ada sebuah bukit. Samar-samar kulihat beberapa orang sedang berfoto di bukit. Aku memilih berjalan di tanah lapang, tiba-tiba dari rerumputan beterbangan puluhan burung prenjak. Aku terkejut juga senang. Kamu tahu adegan seseorang setengah berlari burung-burung di taman kota dan seketika burung-burung itu terbang? Nah, dalam pikiranku aku merekonstruksi adegan itu, bedanya aku di tanah lapang bukan di taman kota, dan burungnya bukanlah burung merpati. Gerombolan burung prenjak tadi lebih menarik perhatianku sehingga aku pergi ke bagian yang lebih datar alih-alih ke bukit. Dari situ pun aku sudah bisa melihat pemandangan berupa hamparan persawahan luas. Jalanan membelah persawahan, terlihat pula atap-atap rumah.

Aku sempat mendengar suara anak kecil. Ada dua anak dan seorang bapak mengenakan baju berwarna oranye. Terhalang semak, mereka kulihat berdiri di pinggir jurang. Saat pandanganku tak lagi terhalang pepohonan dan semak kedua anak kecil dan si bapak itu tak ada. Hei, ke mana mereka?! Mereka beneran manusia, kan? Lagi pula sekarang tengah hari. Samar-samar aku mendengar lagi suara anak kecil. Aku ke pinggir jurang. Ternyata ada tangga kayu kecil sempit dan menurun. Ah, rupanya mereka memang bukan hantu. Aku lantas ikut menuruni tangga itu. Dan aku bertemu si bapak dengan kedua anaknya. Dia warga sekitar sini. Dia bertanya dari mana aku? Yogyakarta.

“Lho, mana temannya kok nggak ke bawah juga?” tanyanya.

“Boten wonten, kulo piyambakan,” kataku. Aku mau turun lebih ke bawah, tapi ada dua orang, cewek dan cowok. Si cowok duduk di bangku kayu. Si cewek berdiri di hadapannya, si cowok memegang pinggang si cewek. Seketika aku merasa menyesal berjalan sendirian. Karena dalam situasi kayak gitu entah kenapa malah aku yang salah tingkah. Maka aku gak jadi ke bawah, tetap di sana, motret-motret bentar, ngobrol dengan si bapak sebentar lalu memutuskan naik.

Setelah naik, aku kembali memperhatikan hamparan sawah yang aku lihat. Hijau, kotak, rapi. Dilihat dari atas sangat bagus dan artistik. Sesuatu yang sangat indah dan berguna semacam itu digantikan dengan rumah. Apakah dalam beberapa tahun kedepan hijaunya sawah yang kulihat itu berganti dengan berderet genting cokelat. Semoga tidak. Jika tidak ada sawah dan petani ,apa yang akan kita makan? Aku berpikir, puluhan tahun lalu jika aku berdiri di Bukit Bintang memandang ke bawah mungkin pemandangan yang akan kulihat tak jauh berbeda dari tyang sekarang ini kulihat. Hamparan sawah.

Memang, pertumbuhan jumlah penduduk, akhirnya butuh lahan juga untuk papan. Namun, harus sinkron dengan alam. Lahan pertanian semakin menyempit berubah menjadi perumahan. Padahal tanah-tanahnya sangat subur. Daerah Prambanan, Klaten, Kalasan terkenal sebagai sentra pertanian. Siapa yang tak kenal beras Delanggu, Klaten? Ya, itu daerah lain. Tapi intinya adalah pertanian adalah sumber penting. Di beberapa tempat di Jawa Barat sudah terjadi bagaimana daerah yang sebelumnya lahan pertanian subur kini jadi kering tandus karena perkembangan pabrik. Karawang, Subang adalah daerah lumbung pertanian sejak dulu. Tapi kini didominasi oleh pabrik. Dan kehidupan masyarakatnya tak jauh berbeda. Well, aku tahu ini melebar.

Itu sebabnya kerajaan Mataram Hindu berkembang dan besar. Tanah mereka sangat subur, pertanian jadi tumpuan. Kurasa, itu juga salah satu sebab mengapa banyak tersebar candi di sini. Bagian dan pemujaan rasa syukur pada Hyang Widhi dan alam atas berkah tanah yang subur.

Lalu sampailah aku di bukit kecil. Beberapa pasang orang sedang asyik berselfie. Berdasar informasi. Di bawah gundukan tanah itulah Candi Abang berada. Tidak seperti candi lain yang dibangun menggunakan batu, candi ini dibangun dari batubata. Itu sebabnya disebut Candi Abang, yang berasal dari warna batubata. Karena matahari berada di ubun-ubun aku memutuskan berteduh dulu di sebuah gazebo bambu di pinggir. Tiga orang pengunjung tampak baru saja mendaki. Mereka ayah-ibu-dan seorang putrinya. Sepertinya putri mereka berusia dua puluhan, ya anak kuliahan. Begitu sampai, si ibu langsung bertanya, “Candinya mana?”

Mereka lalu berjalan ke arah gazebo tempatku duduk. “Ini candinya di sebelah bukit ini ya, mbak?” tanyanya padaku.

“Nggak Bu. Gundukan tanah ini candinya. Candinya terkubur di dalam. Candinya dari batubata, berbeda dari kebanyakan candi lain,” jelasku.

“Oh, begitu. Soalnya di foto itu bagus, makanya kami ke sini,” ucap ibu itu. Pasti yang dia maksud foto di Instagram.

Keluarga kecil itu lalu foto-foto selfie. Saat kembali ke gazebo, si ibu bertanya, “Mbak dari mana? Dari Jogja.”

“Mana di Jogja?”

“Giwangan, Bu.”

Dia cukup terkejut saat kubilang, aku sedari tadi pagi mendatangi candi-candi.

“Wah, wisata candi to, Mbak.”

Tak berapa lama kemudian, keluarga itu pergi. Aku masih duduk di gazebo. Di belakangku, sepasang anak muda sedang bermesraan. Iya, aku tahu ini risiko jalan-jalan sendirian. Maka, aku memutuskan ke bukit saja. Memang di jalan setapak ada beberapa bagian batubata yang terlihat. Sekilas, seperti seseorang berusaha memperbaiki jalanan becek dengan memberikan bebatuan. Batubata itu adalah bagian candi yang terkubur. Dan memang di puncak bukit, terlihat tumpukan batu bata. Itu adalah bagian dari stupa. Tapi, batuan batubata merah di jalan setapak itu kan bagian dari candi, kalau melulu diinjak kaki bukankah makin cepat rusak?

Aku duduk di pinggir bukit melihat pemandangan jauh. Luas. Karena sejak tadi tak ada foto diriku, maka aku meminta seorang cewek yang datang bersama temannya untuk memotretku (beberapa kali kucoba selfie, tapi gak berhasil). Sebagai gantinya, aku memotret mereka berdua.

Pukul 1.15 aku memutuskan turun dan menuju lava bantal. Setelah seharian berpanas-panasan, akhirnya aku bisa menyegarkan diri dengan bermain air. Jadi, sambil berendam di aliran air, aku meneruskan bacaanku.

air mengalir sampai jauh

Sekitar pukul 2 siang aku pulang. Melewati Berbah, jalan tembusnya adalah Bantengan, Ringroad. Dekat dengan kantor. Setelah itu, minum cokelat dingin di Essen.

Sebenarnya masih banyak candi lain yang bisa dikunjungi. Aku belum ke Candi Ratu Boko, ke Candi Ijo, Candi Barong. Hm, ke Ratu Boko kapan-kapan aja deh. Kayaknya sekarang sedang hype gara-gara AADC 2, Candi Boko pun kena efeknya.

Well, beberapa keputusan yang kupikirkan dan kuambil selama jalan-jalan ke candi-candi tadi. Menyenangkan punya waktu berdialog dengan diri sendiri dan alam.[ ]

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *