Press "Enter" to skip to content

[Resensi] Si Janggut Mengencingi Herucakra

Orator Sekaligus Provokator pun Patah Hati

Si Janggut Mengencingi Herucakra

Si Janggut Mengencingi Herucakra | Pengarang A.S. Laksana | Penerbit Marjin Kiri | viii+133 hlm

Aku tipikal orang yang tidak teratur membaca. Meski punya pembatas buku, aku biasanya membaca ulang bab/subbab/cerpen yang tengah kubaca. Sudah agak lama aku menerima pinjaman kumcer ini dari Mas Dion. Beberapa bulan lalu, ini buku yang selalu aku bawa di tas. Baru semalam aku benar-benar menyelesaikannya dan menuliskan pendapatku berkenaan kumpulan cerita bikinan A.S. Laksana.

Dua belas kumpulan cerita A.S. Laksana ini dibuka oleh kisah suami-istri. Dalam cerpen berjudul “Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya”.

Kita diajak menyelami pemikiran dan kegelisahan si suami tentang istrinya. Aku menangkap rasa insecure dari sang istri. Meski si suami berkata, iya. Tapi si istri tak pernah yakin bahwa suaminya memang maksud demikian, bukan sekadar menyenangkan sang istri. Pembicaraan antara suami istri  ini… dalam beberapa hal aku kerap menemukan tipikal percakapan yang serupa. Mungkin demikian cara beberapa perempuan dan laki-laki menanggapi sebuah percakapan. Apakah memang demikian percakapan antara pasangan yang asmaranya meredup?

Berpikir kritis memang kerap sesuatu yang menakutkan. Sebuah keterbukaan yang diikuti oleh konsekuensi. Lebih mudah memang cari aman. Kita tahu bagaimana pabrik, bila ada buruh bersikap vokal terhadap tekanan perusahaan kerap mendapat tekanan dan ancaman, tak hanya dari pihak perusahaan tapi juga rekan sendiri. Karena dianggap menyusahkan teman sendiri.

Itulah yang kerap dilakukan si Janggut, menggemburkan kepala dan menanaminya dengan benih-benih perlawanan. Di pabrik bohlam tempat si Janggut bekerja, ia berbicara soal kewajiban pabrik tempat mereka bekerja menggaji buruh sesuai aturan. Kicauan yang tak disukai oleh pihak pabrik maupun sesama kalangan buruh.

“Kau baru sepekan di tempat ini. Jangan mengadu domba, jangan cari perkara.” (hlm 16)

Lalu di lain kesempatan, si Janggut menemukan sebuah selebaran bertuliskan Herucakra. Ratu Adil Pasti Datang. Fotokopi surat berantai tiga halaman berisi amanat Ratu Adil. Surat yang harus digandakan dan diberikan kepada dua puluh orang demi keselamatan hidup. Si Janggut lantas mengencingi selebaran itu. Ia berpidato pada orang-orang, bahwa kaum pemalas yang hanya mengharapkan datangnya ratu khayalan adalah sama belaka dengan cacing kremi merindukan bulan.

Si Janggut menyadari bahwa urusannya untuk menggemburkan kepala orang-orang tidak akan pernah menjadi pekerjaan yang mudah. (hlm 17)

Kisah tentang si Janggut ini adalah cerpen kedua yang akan Anda nikmati di kumcer ini. Cerpen yang menjadi judul kumcer: “Si Janggut Mengencingi Herucakra”.

Apa yang dikatakan oleh si Janggut memang kerap membuat orang memberikan ekspresi aneh, terkejut. Ada dua hal yang akan terjadi: menanggapi ujaran/khutbah si Janggut, atau pergi dengan raut muka, dasar orang aneh. Namun, ada satu orang yang mendengarkan penuturan si Janggut dengan ekspresi yang berbeda. Ia tetap tenang, menatap si Janggut dengan penuh perhatian saat si Janggut sedang bercerita. Orang itu adalah Trinil.

Membaca beberapa bagian cerpen “Si Janggut Mengencingi Herucakra”, aku teringat pada tahun 1997-2000. Perubahan politik yang begitu kuat, krisis ekonomi yang serta-merta melanda Indonesia, dianggap sebagai Zaman Kala Bendu, menurut ramalan Ronggowarsito. Maka, kerinduan akan datangnya Ratu Adil sangat kuat pada saat itu. Aku kira masih ada kalangan yang berkesadaran magis seperti.

Cerita ketiga, “Cerita Ababil”, harus dibaca penuh kesabaran dan ketelitian (Ya, sebenarnya hampir semua cerpen di kumcer ini mesti dibaca dengan penuh ketelitian dan kesabaran). Apa pasalnya? POV yang digunakan adalah POV orang pertama—aku. Namun, aku di tiap sub bagian berbeda. Di bagian awal si aku adalah Rustam, bagian selanjutnya si aku adalah Maliki.

Dalam cerpen “Cerita Ababil” ini aku menemukan kejanggalan. Di awal cerita disebutkan Maliki meninggal pada umur sembilan puluh enam. Namun, di bagian selanjutnya dituliskan “…sampai napasnya putus di usia kesembilan puluh tiga.”

Dalam cerpen “Maulana dan Upaya Memperindah Purnama”, aku menyukai bagaimana seorang ayah menceritakan kepada si anak yang sejak lahir kehilangan sang ibu. Ia kemudian menciptakan/melakukan sebuah ritual/kebiasaan dengan sang anak dalam rangka mengenang sang ibu. Agar sang anak tak merasa jauh dari ibunya. Ritual berdua anak dan ayah itu membuatku terenyuh.

Membaca cerpen “Rashida Chairani”, aku menemukan konteks yang dekat dengan kejadian yang akhir-akhir ini. Tentang kekerasan seksual terhadap perempuan. Bagaimana kerap kali saat pemerkosaan atau pelecehan seksual terjadi, orang-orang malah menyalahkan si korban, tidak percaya pada pengakuan si perempuan. Apalagi jika si pemerkosa punya kedudukan, relasi kekuasaan, atau dianggap sebagai orang yang alim.

Dan, yang menyalahkan si perempuan korban pemerkosaan tak hanya kaum lelaki, tapi juga sesama perempuan.

“Bagaimana kau akan membuktikan bahwa mereka memperkosamu?” tanyanya. (hlm 78)

“Saya mengatakan yang sebenarnya,” kataku.

“Dan setiap orang akan mempercayaimu karena kau-bilang saya mengatakan yang sebenarnya?” tanya Ibu kepala sekolah.

Anda akan mengenali nama tokoh yang sama dalam cerpen yang berbeda. Di cerpen “Tentang Maulana dan Upaya Memperindah Purnama”, pembaca akan menemukan tokoh bernama Ratri, di cerpen “Perpisahan Baik-baik” ada juga karakter bernama Ratri. Beberapa nama yang sama disinggung di cerpen yang berbeda, membuatku berpikir apakah itu orang yang sama ataukah sekadar nama yang sama?

Cerpen yang tergolong mudah dimengerti dan memberikan ending yang cukup jelas menurutku adalah cerpen terakhir, “Perpisahan Baik-baik”.

Bagi pembaca yang mengharapkan ending cerpen yang gegap gempita, kurasa kumcer ini tidak bisa memuaskan. Beberapa kali aku tertegun, endingnya kok begini? Namun, yang kurasakan selama membaca kumcer ini, ibarat A.S. Laksana berkata padaku, “Sudah, jangan berpikir macam-macam dan aneh, nikmati saja ceritanya.”

Dan, iya, aku menyukai narasi, deskripsi yang dibawakan dalam cerita-cerita ini. Aku menyukai bagaimana pada paragraf awal, A.S menuliskan pembukaan yang sangat menarik. Membuatku penasaran bagaimana dan soal apa cerpen ini akan berkisah?

Ibu memintaku mengingat nama-nama: tiga lelaki dan satu perempuan dan salah satu dari ketiga lelaki itu sudah pasti ayahku. Ia telah mengatakan hal ini sejak aku kanak-kanak dan mengulanginya berkali-kali sepanjang hidupnya seolah takut aku lupa. ( hlm 76)

Pada malam sebelum esok harinya a memasuki kehidupan baru, Seto kehilangan kunci rumah. (Hlm 58)

Aku belum pernah membaca karya A.S. Laksana yang lain sehingga tidak bisa memberikan perbandingan antara kumcer Si Janggut Mengencingi Herucakra dan kumcer lain.

Cara A.S. Laksana mengolah cerita ini menarik. Kisah tentang seseorang yang kehilangan kunci rumah sehingga ia tak bisa masuk ke rumahnya sendiri disajikan dengan penuh keajaiban. Aku jadi pikir, hal biasa, namun ditambah dengan imajinasi bisa menjadi sesuatu yang luar biasa, unik, tak terpikirkan sebelumnya. Aku teringat saat kecil kerap mengarang cerita, menambahinya dengan karakter dongeng, dsb. Sebuah ramuan cerita ala pendongeng.

Dalam segi teknik bercerita, kumcer ini bisa dijadikan contoh soal penggunaan sudut pandang. Memang sebagian besar menggunakan POV orang pertama-aku. Namun, si aku bisa jadi tokoh dan terlibat banyak dalam cerita. Bisa juga sebagai narator dalam cerita.

Meski dalam satu cerita terdapat 2-3 “Aku”, pembaca tetap bisa menyadari bahwa mereka adalah tiga tokoh berbeda yang memiliki perangai yang berbeda pula. Menulis dengan cara pandang seperti ini, terkadang penulis sempat slip, karakter si tokoh tertukar. Nah, hal semacam itu, tidak kutemui dalam cerita-cerita pendek karangan A.S. Laksana ini.

Karakter para tokoh dalam cerita-cerita pendek A.S. Laksana ini terasa hidup, dekat dengan kita. Pembaca bisa keluar masuk dari benak tokoh satu ke tokoh lain, namun sebagai pembaca, kita bisa melihat konflik tersebut lebih utuh. Kegetiran hidup mereka pun terasa pekat di benak saat membaca cerpen-cerpen ini. [ ]

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *