Press "Enter" to skip to content

Tentang LGBT dan Muslimah Bercadar

Beberapa waktu lalu aku membaca tautan “Surat Terbuka untuk LGBT dari Muslimah Bercadar”.

Dalam tautan tersebut, Sheren Chamila Fahmi, menanggapi pernyataan salah satu narasumber komunitas LGBT dalam tayangan Indonesia Lawyer Club di TV One pada 16 Februari lalu. Sang narasumber mengungkapkan sejumlah diskriminasi yang dialami oleh komunitas gay.

Dalam surat terbukanya, Sheren Chamila Fahmi, menuliskan, “Setelah mereka berbicara panjang lebar respon saya cuma satu, ‘Lho, jadi cuma segitu doang?’

Kata mereka diskriminasi yang mereka dapat berupa bully, dilarang kerja di perusahaan tertentu, dilarang kuliah di kampus tertentu. Wah, itu sih bagi saya sepele banget. Kalau hanya sesepele itu saya dan kawan-kawan saya lainnya yang bercadar juga gampang saja lapor KOMNAS HAM karena didiskriminasi.”

Kemudian Sheren menuliskan sejumlah pelecehan, bully-an yang pernah dia alami sebagai perempuan Muslim bercadar. Selengkapnya baca di tautan ini.

Aku terganggu dengan kata “sepele” yang dituliskan. Menurut pendapatku, mengatakan bahwa tindak kekerasan, pelecehan, bully-an yang dialami kelompok A tidak seberapa dengan yang dialami kelompok B tidaklah bijak.

Ibarat dua orang sama-sama sakit hati, lalu saling menegaskan bahwa sakit hatinya lebih buruk ketimbang orang lain. Melupakan fakta bahwa mereka disakiti oleh orang yang sama. Mereka malah saling bertengkar, sementara orang yang menyakiti mereka melenggang pergi.

Bagaimana bisa mengukur sakit hati serupa mengukur berat beras di timbangan? Sakit hatiku lebih berat ketimbang sakit hatimu.

Tak seorang pun senang diperlakukan diskriminatif. Pelecehan, tindakan diskriminatif, apa pun bentuknya mesti dilawan. Pram bilang, adil sejak dalam pikiran. Memang bukan hal yang mudah dilakukan tapi bukan berarti mustahil.

Jika tidak bisa adil sejak dalam pikiran, maka akan timbul prasangka. Prasangka adalah pandangan kita akan sesuatu, sebelum sesuatu itu terjadi. Ia tidak nyata. Ia hanya khayalan di kepala kita yang berpijak pada ketakutan dan kesalahpahaman. Prasangka lalu melahirkan diskriminasi, bertindak tidak adil.

Prasangka bahwa jika seseorang mengenakan pakaian serba tertutup adalah teroris, prasangka orang gay akan menularkan kegayannya, dan sebagainya. Kemudian berlaku tidak adil terhadap kaum tersebut.

Tapi prasangka kan bagian dari kewaspadaan, kata beberapa orang. Waspada boleh, tapi jangan sampai melukai orang lain. Atas dasar prasangka, kita menutup diri, tak mau berinteraksi dengan pihak tersebut. Lebih buruk lagi, prasangka tersebut berkembang menjadi fobia.

Apa itu fobia? Fobia adalah ketakutan yang sangat berlebihan terhadap sesuatu atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya.

Homofobia, Islamofobia sama-sama buruk dan berbahaya.

Memang banyak prasangka dan diskriminasi dalam kehidupan bermasyarakat. Lelaki berjenggot panjang, perempuan bercadar langsung dicap teroris; orang dari kawasan Timur langsung dicap pembuat onar, dsb.

Bagaimana menghilangkan prasangka?

Melalui dialog dan berinteraksi. Namun, dialog dan interaksi tak mungkin dilakukan bila pihak yang berprasangka tak menurunkan egonya. Dialog dan interaksi akan terjadi bila saling berusaha bersikap terbuka dan saling memaafkan.

Kita tidak bisa membalas kebencian dengan kebencian, bukan?

Namun, kerap kali itulah yang kita lakukan. Maka, rantai kebencian terus mengikat.

Aku teringat salah satu episode dalam Doctor Who:

You just want cruelty to beget cruelty. You’re not superior to people who were cruel to you. You’re just a whole bunch of new cruel people. A whole bunch of new cruel people being cruel to some other people who’ll end up being cruel to you. The only way anyone can live in peace is if they’re prepared to forgive. Why don’t you break the cycle?

Berbeda dari segi agama, kepercayaan, prinsip hidup, tapi kita sama dari segi kemanusiaan.

Sebuah hadits menyatakan:

Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari-Muslim)

Saudara di sini tak cuma berarti saudara sekandung, keluarga, maupun saudara seiman, namun juga saudara dalam konteks manusia—kemanusiaan.

Tak peduli apakah seseorang itu gay, bercadar, dsb, ia mesti bisa menjalani kegiatan sehari-hari dengan rasa aman. Ia adalah bagian dari kita.

Dalam konteks bernegara, sudah menjadi kewajiban bagi negara memberi perlindungan bagi seluruh warga negara tanpa kecuali. Tidak ada diskriminasi.

Jangan sampai kita bertindak karena prasangka dan rasa takut.

Kita—bangsa Indonesia–punya sejarah kelam bagaimana negara memanipulasi rasa takut dan prasangka masyarakatnya hingga membunuh banyak nyawa manusia.

Negara memanipulasi, menyebarkan ketakutan terhadap PKI, membuat warganya saling bertikai sendiri, poros PKI vs. poros Islam, dibentuklah berbagai peraturan yang mengekang atas nama “keamanan”. Kerap kali yang banyak menjadi korban adalah mereka yang tidak ada sangkut pautnya dengan konflik.

Negara juga pernah mengeluarkan peraturan diskriminatif terhadap etnis Tionghoa di Indonesia.

Justru, kita mesti bersama menekan negara untuk menjalankan kewajibannya melindungi hak-hak warga negaranya tanpa kecuali, tanpa diskriminasi. Menjadi pengawas negara agar tidak mengeluarkan kebijakan yang diskriminatif.

Tak seharusnya diskriminasi dianggap sebagai sesuatu yang sepele. Namun, kita bisa menghilangkan—setidaknya mengurangi tindakan diskriminatif lewat hal yang sederhana; berdialog dan berinteraksi dengan pihak yang berseberangan. []

Pertama kali diunggah di Qureta

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *