Press "Enter" to skip to content

31 Tahun yang Kugunakan

Awalnya mencari sebuah dokumen di lemari, kemudian tanpa sengaja aku menemukan buku harian lama dan foto tua—saat aku masih kecil di antara tumpukan berbagai macam buku notes yang belum sempat kugunakan dan dokumen lama. Hah, kini aku yang menua menatap foto tua bergambar diriku saat bayi.

Jadilah perhatianku beralih dari mencari dokumen kepada membaca buku harian dan melihat-lihat fotoku saat kanak-kanak, yang membawaku menyusuri sungai kenangan mengingat kejadian-kejadian yang lalu. Hari-hari yang telah meninggalkan jam dari setiap detik, setiap kenangan.

“Apa saja yang telah aku lewati hingga saat ini?”

Banyak hal yang aku lewati–lewatkan, hal yang menyesakkan jika diingat. Beberapa kali kehilangan diri dalam ketakutan, dalam rutinitas. Terjebak dalam labirin. Namun aku mesti mengada—hidup tak bermakna hingga kita sendiri yang memberinya makna. Eksistensi mendahului esensi. Keputusanku, tindakanku kala itu yang memberi makna dalam hidup. Pun keputusan dan tindakanku kelak.

Waktu; masa lalu, kini, dan mendatang.

Waktu, seperti musuh yang selalu mengejar, sulit kita kalahkan. Sekian banyak filsuf yang mencoba memahami apa itu waktu. Teka-teki apa itu waktu hampir setua teka-teki manakah yang lebih dulu, ayam atau telur.

Selama tiga puluh satu tahun ini aku sering lupa, setiap menit berlalu menguap. Waktu terus memperpendek detik hingga usia berakhir. Usia tak sekadar deretan angka di atas kue tart, bukan?

korek

Tubuhku makin renta, sedikit demi sedikit kulit mengerut. Dan produsen kosmetik makin gencar menawarkan produk kecantikan mencegah kerutan-kerutan. Kalaupun produk itu bisa mencegah kerutan, apa itu bisa mencegah waktu?

Seperti kata Heraclitus, “segala sesuatu terus mengalir.” Begitu pun waktu, tak ada yang bisa menghentikan waktu. Kita tidak bisa menyeberangi sungai yang sama dalam keadaan yang sama dua kali. Kehidupan mengalir, akan ke mana ujungnya?

Filsuf Yunani lainnya, Heidos. Waktu adalah siklus. Daur melingkar. Bertemu kawan di hari Senin yang sama, pukul yang sama, tapi kedirian yang berbeda. Aku sekarang tentu berbeda dengan aku lima menit yang lalu.

Lain lagi bagi Einstein, menurutnya waktu itu relatif. Perumpaman yang terkenal, Jika kau berada dekat gadis cantik satu jam seperti sedetik. Saat kau duduk di perapian yang menyala selama sedetik serasa seperti satu jam.

Karena itu, waktu berkaitan erat dengan persepsi manusia. Lama, sebentar itu berhubungan dengan persepsi dan kesadaran.

Kalau kata Doctor, dalam serial Doctor Who, “People assume that time is a strict progression of cause to affect, but actually, far a non-linier, non-subjective point of view.

Saat ingat masa lalu, sering berkhayal punya mesin waktu, pergi ke masa lalu dan berusaha memperbaiki keadaan. Memperingatkan aku di masa lalu untuk tak melakukan sesuatu yang akan menyebabkan aku di masa datang menderita–namun aku di masa lalu tak boleh bertemu dengan aku di masa datang- seperti film fiksi ilmiah Back To The Future.

Tapi, hal itu kerap kali bukanlah hal bagus. Ah, terlalu banyak nonton film dan drama time-travelling macam Doctor Who, About Time, dan Legends of Tomorrow. Namun, yang kupelajari dari beberapa film itu adalah saat terbaik yang kita punya adalah sekarang. Sekalipun mengubah sesuatu di masa depan, efeknya di masa depan tidaklah selalu seperti yang diperkirakan.

Well, time it’s more like a big ball of is wibbily-wobbly timey-wimey stuff.

Aku tak tahu jika sungguh ada mesin waktu semacam itu, apakah hidupku saat ini menjadi lebih baik. Seperti Evan, tokoh di film The Butterfly Effect, punya kekuatan kembali ke masa lalu dengan cara membaca buku hariannya. Ia ingin menyelamatkan sang kekasih, Kayleigh. Mengubah hidupnya, hidup sahabatnya, hidup kekasihnya. Tiap hal yang ia lakukan membawa konsekuensi lain. Akhirnya ia harus mengambil keputusan mana yang ingin ia ubah.

Menyenangkan punya imajinasi semacam itu. Tapi sekarang kembali ke realitas, di masa kini, di sini, sekarang. Sudah cukup bicara tentang masa lalu. Aku kira jejakku di dunia terukir pada ingatan orang-orang yang aku kenal, mereka yang mengenalku, berinteraksi denganku. Jejak itu tampak saat seseorang itu menjawab pertanyaan, “Bagaimana Misni di saat hidup? Bagaimana hubungan kalian?

Jika aku meninggal, akankah ada yang menyampaikan eulogi? Siapa?

Persinggungan dan interaksi dengan orang lain seperti melengkapi kepingan puzzle diriku. Kita adalah cermin dan wajah di dalamnya.

Aku tak selalu menjadi teman yang menyenangkan.  Kerap membuat kesal, aku kira.  Maaf atas semua itu. Dan terima kasih sudah memahami. Dan tetap jadi teman. Terima kasih telah melengkapi hidupku. Itu sangat berarti buatku.

Salah satu bahasan Sartre adalah mengenai keyakinan yang buruk. Menurutnya, kebanyakan orang memilih salah satu aspek dari masa lalunya, kemudian memproyeksikan hal itu ke masa depan sebagai bagian dari diri mereka sendiri. Lalu mengklaim itu bagian dari kepribadian, bahwa mereka tidak mempunyai pilihan lain selain bertindak sebagaimana mereka bertindak. Terkadang aku terjebak pada keyakinan yang buruk itu. Setidaknya kini aku telah menulis tentang itu, jika suatu saat aku terjebak lagi, aku bisa ingat bahwa aku punya pilihan lain.

Sudah setahun lebih memasuki bilangan usia tiga puluhan. Yes, no longer twenty-something, my dear. High code red alert, some says. Terutamanya bagi perempuan. Pertanyaan klasik –tapi everlasting– yaitu tentang pernikahan, anak, karier. Well, aku memasuki usia itu.

Tak mengapa. Di saat sekarang sering dihinggapi rasa cemas. Kecemasan eksistensial. Ini berkaitan dengan seluruh keberadaanku sebagai manusia. Mempertanyakan hal-hal yang sebelumnya aku yakini. Cemas akan masa depan. Apa yang ditawarkan oleh masa depan? Ketidakpastian. Tak ada sesuatu pun yang dapat menjamin bahwa masa depanku akan mengikuti ketetapan yang aku buat sekarang.

Diriku yang sekarang bukanlah diriku yang akan datang. Yah, masa depan belum dibangun, akulah yang mesti membangunnya. ini tak bisa dihindari, jadi aku menerimanya. Bukankah ini adalah bagian dari drama eksistensi manusia? Membuat pilihan, mengambil keputusan, meski kerap informasi yang kita dapatkan sedikit, cemas jangan-jangan pilihan yang kita ambil salah, dan tak seorangpun bisa memutuskannya untuk kita. Kita sendiri yang memutuskannya.

Camus pernah bilang, jika kehidupan ini begitu absurd, mengapa tidak kita bunuh diri saja? Sisifus, dihukum dewa untuk terus-menerus mendorong batu raksasa ke puncak, berulang-ulang. Tapi Sisifus bahagia. Absurditas hidup dijawabnya dengan pemberontakan. Begitupun Prometheus.

Tiga puluh satu sudah aku menjadi bagian dongeng besar semesta.

Usiaku menunjukkan berapa lama aku sudah meminjam dunia. Sialnya, si Pemberi Pinjaman tak memberitahuku kapan dia akan menarik kembali duniaku.

Bertambah tua sudah pasti. Maka dari itu, segera melakukan program lebih serius menjaga kesehatan. Karena meski aku mempunyai seluruh isi dunia, itu tak bisa ditukar dengan kesehatan. Bagaimana dengan pertumbuhan jiwa? Makin baikkah? Aku menginginkan memasuki usia tiga puluh satu ini aku makin baik mentrandensi diri, berproses menentukan dan membentuk diriku. Lewat pilihan yang aku buat, keputusan yang aku ambil. Hidup otentik. Itu caraku menjejak di dunia.

Tulisan ini sekadar caraku untuk mengingat, bila suatu ketika aku berputus asa karena tak menemukan cahaya terang dalam hidupku. Aku bisa membaca ulang tulisan ini dan meyakinkan diri lagi bahwa aku bisa menemukan cahaya terangku. []

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *